Logo Bloomberg Technoz

“Insyaallah [bulan ini]. Saya lagi mau nge-push,” ungkap Djoksis, sapaan karibnya, saat ditemui usai agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Meski begitu, Djoksis bilang pelaksanaan groundbreaking masih bergantung pada penyelesaian proses ganti rugi tanam tumbuh bagi masyarakat terdampak di sekitar proyek.

Saat ini, proses penilaian ganti rugi masih berlangsung dan melibatkan Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) dan Tim Terpadu (Timdu).

"Setelah penyelesaian ganti rugi tanam tumbuh untuk masyarakat ya, lagi diproses sama KJPP ya sama Timdu, nanti kalau udah selesai laporannya, terus pada saat ke sana langsung ganti rugi sekalian pembayaran, semuanya groundbreaking," imbuhnya. 

Dia menjelaskan kepemilikan lahan di area proyek cukup beragam, mulai dari kepemilikan masyarakat langsung hingga pihak perusahaan yang sebelumnya telah membeli lahan dari warga.

"Kalau yang dimiliki seluruh masyarakat kan enak satu angka. Kan kadang ada tanah masyarakat yang sudah dibeli perusahaan. Nah, dulu belinya berapa, sekarang ganti ruginya berapa. Pasti mengambil sesuatu kan? Tapi jangan gede-gede lah. Tunggu hasil Timdulah," ungkap Djoksis.

Di sisi lain, Inpex Masela Ltd. telah meneken perjanjian pengembangan proyek dan kontrak komersial di Lapangan Gas Abadi, Blok Masela dengan tiga badan usaha milik negara (BUMN).

Tiga BUMN yang dimaksud yakni; PT PLN (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), serta PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.  (PGAS) atau PGN.

Kala itu, Djoko mengungkapkan total kapasitas produksi gas dari Blok Masela mencapai sekitar 1.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 MMSCFD telah dialokasikan untuk kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

“Masela itu kan sekitar total 1.200-an [MMSCFD], masih ada spare 250 [MMSCFD] yang untuk kalau kita butuh untuk nanti kita bikin apa lagi. Akan tetapi, yang lain sudah; dalam negeri dan luar negeri sudah. 1.000-an MM per hari sudah,” ujar Djoko kepada awak media, di sela IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).

Untuk industri pupuk, penyaluran gas akan dilakukan melalui pipa, sedangkan sebagian volume lainnya akan dipasarkan dalam bentuk gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Ekspor ke Jepang

Djoko menambahkan salah satu pembeli LNG dari Blok Masela berasal dari Jepang dengan permintaan mencapai sekitar 2 juta hingga 2,5 juta ton per tahun (mtpa).

Selain itu, kata Djoko, terdapat pembeli lain dari perusahaan internasional; Eni SpA hingga BP Plc—tetapi dia belum mengungkapkan volume permintaannya.

“Selain Jepang ada juga, ada dua, Eni Spa, BP trader,” katanya.

Untuk diketahui, Lapangan Abadi Masela atau disebut juga proyek LNG Abadi adalah salah satu proyek strategis nasional (PSN) sekaligus proyek hulu migas terbesar di Indonesia saat ini. 

Berlokasi di Laut Arafura, Provinsi Maluku, investasi proyek ini bernilai sekitar US$20 miliar atau setara Rp330 triliun.

Lapangan Abadi diklasifikasikan sebagai giant gas field (lapangan gas raksasa) karena memiliki area sebaran lebih dari 1.000 km persegi dengan total cadangan gas mencapai 10 triliun kaki kubik (TCF) hingga lebih dari 18 TCF.

Saat ini, proyek Blok Masela digarap oleh konsorsium yang terdiri dari tiga perusahaan migas raksasa, yaitu INPEX Corporation dari Jepang melalui anak usahanya, INPEX Masela Ltd yang memiliki saham sebesar 65% atau sebagai operator utama.

Lalu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memegang 20% saham, setelah mengakuisisi sebagian hak partisipasi (participating interest) yang sebelumnya dipegang oleh Shell, serta pihak ketiga Petronas Masela Sdn Bhd dari Malaysia yang memegang 15% saham.

(azr/wdh)

No more pages