Kenaikan bunga dapat membuat aset rupiah lebih menarik, tetapi ia juga menaikkan biaya kredit, menahan investasi, menekan valuasi saham, dan memperbesar beban pembiayaan sektor riil.
"Karena itu, kebijakan BI tepat sebagai pertahanan jangka pendek, tetapi tidak cukup sebagai solusi utama," tegas Syafruddin.
Di sisi lain, pemerintah harus mengambil bagian lebih besar untuk menurunkan premi risiko. Beberapa kebijakan yang bisa dilakukan ialah menjaga disiplin Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan membatasi potensi crowding out dari instrumen khusus. Selain itu, memastikan aturan pelaksana Undang-undang Nomor 4 Tahun 2026 tidak membuka moral hazard, memperkuat cadangan devisa, dan memperluas local currency transaction (LCT) secara nyata.
"Tanpa perbaikan di sisi fiskal, tata kelola, dan pasokan devisa, kenaikan BI Rate hanya akan membeli waktu dengan biaya ekonomi yang semakin mahal," tuturnya.
Menurut dia, rupiah masih melemah karena tekanan yang dihadapi Indonesia tidak hanya berasal dari sisi moneter. BI memang sudah menaikkan BI Rate, memperkuat operasi pasar, menjaga likuiditas valas, dan menahan ekspektasi melalui instrumen pasar uang. Akan tetapi, tekanan rupiah berasal dari kombinasi faktor yang lebih luas.
Faktor penyebab rupiah melemah antara lain dolar AS yang masih kuat, imbal hasil atau yield obligasi global tetap tinggi, arus modal ke emerging market selektif, kebutuhan valas domestik besar, dan pasar masih meminta premi risiko tinggi terhadap aset Indonesia.
Data terakhir menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak ke sekitar Rp17.955/US$, forward 3 bulan berada di sekitar 18.065, yield SBN 10 tahun naik ke sekitar 7,263%, CDS 5 tahun mendekati 90 bps, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke sekitar 6.002.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya menguji kebijakan BI, tetapi juga menguji kredibilitas fiskal, kualitas pembiayaan pemerintah, tata kelola Danantara, risiko Pasal 50A dalam UU No. 4 Tahun 2026, serta kemampuan Indonesia memperkuat devisa riil.
"Karena itu, rupiah tetap melemah walau BI sudah bertindak agresif. Suku bunga dapat menahan tekanan, tetapi tidak bisa sendirian memperbaiki neraca valas, menurunkan premi risiko fiskal, dan memulihkan kepercayaan investor," paparnya.
Dia menambahkan rupiah akan lebih stabil jika BI memperoleh dukungan nyata dari APBN yang kredibel, penerbitan utang yang hati-hati, transparansi instrumen khusus, ekspor bernilai tambah, efisiensi impor energi, dan pasar lindung nilai yang lebih dalam.
(lav)






























