Logo Bloomberg Technoz

Data Uang Primer: Likuiditas Ketat di Tengah Upaya Menjaga Rupiah

Redaksi
24 June 2026 06:45

Dampak pemangkasan suku bunga acuan oleh BI terhadap bunga perbankan. Ilustrasi kantor Bank Indonesia. (Muhammad Fadli/Bloomberg)
Dampak pemangkasan suku bunga acuan oleh BI terhadap bunga perbankan. Ilustrasi kantor Bank Indonesia. (Muhammad Fadli/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengumumkan uang primer atau base money yang disesuaikan (M0 adjusted) pada Mei 2026 mencapai Rp2.214,6 triliun. Posisi ini berkurang Rp181,9 triliun (-7,6%) dari posisi puncak pelonggaran pada akhir kuartal I-2026, tepatnya Maret 2026 sebesar Rp2.396,5 triliun. Sementara, posisi uang primer April 2026 tercatat mulai turun ke Rp2.232,2 triliun.

Data uang primer kerap menjadi gambaran terkait likuiditas dalam sistem perekonomian. Indikator berkurangnya uang dalam sistem perekonomian selama dua bulan terakhir mencerminkan stabilitas rupiah beberapa waktu terakhir dibayar dengan kondisi likuiditas yang lebih ketat.

Langkah stabilisasi nilai tukar rupiah ini juga sejalan dengan lonjakan instrumen pengendalian moneter Bank Indonesia (BI). Posisi pengendalian moneter meningkat dari Rp541,9 triliun pada Mei 2025, menjadi Rp855,1 triliun pada Mei 2026, naik sebesar 57,8% secara tahunan.


Kenaikan ini menggambarkan BI semakin aktif menyerap kelebihan likuiditas melalui berbagai instrumen, salah satunya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan instrumen operasi moneter lainnya.

Dari sisi stabilitas makro, kebijakan tersebut nampaknya mulai menunjukkan hasil. Meski turun 2,6% secara tahunan, aktiva luar negeri bersih (net foreign assets) masih terjaga di atas Rp2.000 triliun, tepatnya Rp2.038 triliun.