Logo Bloomberg Technoz

Risiko Kabut Asap Berat di Asia Tenggara Meningkat Akibat El Niño

News
24 June 2026 17:20

Petugas memantau monitor citra satelit cuaca el nino di Gedung BMKG, Jakarta, Jumat (8/11/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Petugas memantau monitor citra satelit cuaca el nino di Gedung BMKG, Jakarta, Jumat (8/11/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Mary Hui - Bloomberg News

Bloomber, Kekeringan dan cuaca panas yang meluas akibat El Niño akan meningkatkan risiko kabut asap parah di Asia Tenggara tahun ini, menurut laporan dari Singapore Institute of International Affairs.

Lembaga tersebut menaikkan peringkat risiko kabut asap parah menjadi tinggi dalam laporan yang dirilis pada hari Rabu, dengan mengidentifikasi periode Agustus hingga September sebagai masa puncak bahaya bagi Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Itu merupakan tingkat tertinggi dari tiga kategori yang ada, dan pertama kalinya risiko dinaikkan ke level tersebut sejak 2023.


Menurut laporan tersebut, El Niño yang sedang berkembang, serta kemungkinan mencapai intensitas kuat pada akhir tahun ini, diperkirakan akan meningkatkan suhu dan menekan curah hujan di Asia Tenggara. Kondisi itu dapat semakin diperparah oleh fase positif Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole), yang juga dapat memicu kekeringan di kawasan tersebut.

“Dengan kondisi cuaca pada sisa bulan-bulan di tahun 2026 yang berpotensi menjadi salah satu musim kemarau terpanas dan terkering yang pernah tercatat, risiko kebakaran yang menyebar di luar kendali akan meningkat,” kata lembaga pemikir independen itu.