Tambahan Anggaran
Dengan perhitungan tersebut, Hadi memprediksi tambahan subsidi dan kompensasi energi untuk BBM berisiko melonjak hingga Rp100 triliun.
Walhasil, Hadi menegaskan pemerintah perlu melakukan pembenahan kebijakan subsidi energi dan memangkas program-program yang memboroskan.
Meski demikian, dia memprediksi pemerintah justru bakal merevisi pagu subsidi BBM agar dapat mengakomodasi kenaikan anggaran subsidi dan kompensasi energi tersebut.
“Satu satunya jalan adalah meningkatkan pagu subsidi BBM dengan revisit APBN untuk optimalisasi APBN dengan delete program yan tidak prioritas dan digunakan untuk subsidi BBM,” ujarnya.
Adapun, anggaran subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 mencapai Rp381,3 triliun.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menetapkan kuota subsidi JBKP Pertalite untuk 2026 sebesar 29,267 juta kl.
Berdasarkan data per 17 Mei 2026, serapan Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite pada Januari—17 Mei 2026 sudah mencapai 10,45 juta kl atau lebih kecil 525.646 kl dari kuota per 17 Mei sejumlah 10,98 juta kl.
Jika dibandingkan dengan kuota sepanjang 2026, realisasi penyaluran Pertalite mencapai 35,74% dari kuota sebesar 29,26 juta kl.
Di sisi lain, serapan Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) Solar per 17 Mei 2026 mencapai 7,04 juta kl, lebih besar 50.090 kl dibandingkan dengan kuota per tanggal tersebut yang sebanyak 6,99 juta kl.
Meskipun begitu, realisasi penyaluran JBT Solar sampai dengan pertengahan bulan ini masih setara dengan 37,8% dari kuota subsidi sepanjangn 2026 yang ditetapkan sejumlah 18,6 juta kl.
Sekadar informasi, harga minyak mentah dunia bergerak melemah seiring langkah para pelaku pasar menganalisis dampak dari pakta perdamaian sementara antara AS dan Iran.
Berdasarkan laporan televisi negara Republik Islam tersebut serta seorang pejabat AS, dokumen kesepakatan itu kini telah ditandatangani secara digital oleh presiden kedua negara.
Kesepakatan tersebut berpotensi membuka kembali aliran jutaan barel minyak dari Timur Tengah seiring dimulainya kembali lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz setelah berakhirnya blokade ganda.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus turun 0,6% menjadi US$79,35/barel pada pukul 09.42 di Singapura pagi ini. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun 0,7% menjadi US$76,09/barel. Kontrak WTI Agustus yang lebih aktif turun 0,5% menjadi US$75,49/barel.
Adapun, Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kuartal IV-2026 menjadi US$80/barel dari proyeksi sebelumnya sebesar US$90/barel, seiring rencana AS dan Iran menandatangi kesepakatan yang diprediksi mengakhiri perang.
Bank investasi tersebut mengasumsikan ekspor dari kawasan Teluk bakal kembali normal ke level sebelum perang pada akhir Juli, dari sebelumnya diproyeksikan bakal terjadi pada akhir Agustus.
Morgan Stanley juga memangkas proyeksi harga minyaknya untuk sepanjang sisa tahun ini.
Dated Brent — patokan untuk transaksi fisik — diperkirakan rata-rata US$90/barel pada kuartal III-2026, turun dari US$100 sebelumnya, dan US$80 pada kuartal IV-2026, penurunan sebesar US$15, kata para analis Morgan Stanley termasuk Martijn Rats dalam sebuah catatan tertanggal 15 Juni.
(wdh)
























