Logo Bloomberg Technoz

Gejolak Minyak Mulai Reda, RI Diminta Tetap Cermat Atur Subsidi

Azura Yumna Ramadani Purnama
19 June 2026 09:50

Oil barrel./dok. Bloomberg
Oil barrel./dok. Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pemerintah disarankan untuk tetap cermat mengelola subsidi energi, meskipun harga minyak mentah mulai melandai usai kesepakatan damai sementara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Praktisi industri migas Hadi Ismoyo mengingatkan jika nantinya rata-rata harga minyak mentah dunia berada di sekitar US$80-an/barel, sebagaimana diproyeksikan berbagai lembaga keuangan di Wall Street, nilai tersebut tetap bakal lebih tinggi dari asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 di level US$70/barel.

Hadi menjelaskan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia mencapai 90 juta kiloliter (kl). Dari besaran itu, sebanyak 60% di antaranya merupakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan porsi sekitar 56 juta kl.


Dia menghitung, jika realisasi ICP lebih tinggi sebesar US$10/barel dari asumsi yang ditetapkan, subsidi BBM diestimasikan bertambah sekitar Rp1.800/liter.

“Jika asumsi harga naik dari US$70/ barel menjadi US$80/barel, yield 0.65, dan kurs Rp17.800/US$, maka tambahan subsidi oleh pemerintah adalah sekitar Rp1.800/liter,” kata Hadi ketika dihubungi, Jumat (19/6/2026).

Grafik pergerakan harga minyak. (Sumber: Bloomberg)