“Kami ingin anak-anak menikmati masa kecil mereka,” kata Perdana Menteri Anthony Albanese saat itu. “Kami ingin orang tua merasa tenang. Itulah yang akan dicapai dengan adanya batasan usia minimum untuk media sosial yang lebih aman.”
Bagaimana larangan di Inggris akan diterapkan?
Pemerintah Inggris juga berencana melarang platform media sosial untuk menerima pengguna berusia di bawah 16 tahun. Pemerintah menyatakan bahwa larangan tersebut akan diperluas dengan memblokir siaran langsung dan komunikasi antar orang asing di berbagai layanan daring, termasuk situs permainan.
Pemerintah setempat berencana mengajukan proposal ini ke Parlemen sebelum Natal dan menerapkan larangan tersebut pada musim semi 2027. Larangan ini tidak akan berlaku untuk layanan pesan seperti Signal atau WhatsApp milik Meta. Layanan pendidikan termasuk YouTube Kids dan Google Classroom juga akan dikecualikan.
“Para raksasa teknologi telah diberi kesempatan dan gagal, tetapi kami turun tangan untuk melindungi anak-anak, mendukung orang tua, dan menetapkan norma baru bagi generasi mendatang,” kata Starmer.
Seberapa efektif larangan Australia ini?
Enam bulan setelah diberlakukan, regulator keamanan daring Australia menyatakan bahwa sekitar 5 juta akun telah ditutup. Namun, belum jelas seberapa sukses larangan Australia ini secara keseluruhan. Banyak orang tua mendukung langkah ini, tetapi puluhan remaja telah menemukan cara untuk mengelak.
Hasil survei terhadap lebih dari 700 remaja Australia menunjukkan bahwa sekitar satu dari empat remaja berusia 14 dan 15 tahun telah mematuhinya. Regulator tersebut mengatakan pada bulan Maret bahwa sekitar 70% orang tua yang menyatakan anak mereka memiliki akun media sosial sebelum larangan diberlakukan masih memiliki akun tersebut.
Australia mengatakan pada bulan Maret bahwa mereka memiliki “kekhawatiran yang signifikan” terkait kepatuhan platform-platform tersebut terhadap undang-undang dan bahwa masih terdapat celah yang signifikan dalam langkah-langkah penegakan hukum mereka.
“Australia sedang melakukan sesuatu yang sangat, sangat sulit. Mereka yang memulai lebih dulu,” kata Jonathan Haidt, seorang psikolog sosial dan penulis buku terlaris *The Anxious Generation*, kepada Bloomberg News sebelum larangan di Inggris diumumkan.
“Setiap negara yang mengikuti jejak mereka akan mendapat manfaat dari pengalaman, menghadapi lebih sedikit penolakan politik, dan memiliki teknologi yang lebih baik,” tambahnya.
Larangan media sosial di Inggris akan lebih ketat daripada di Australia?
Menyadari kemungkinan bahwa banyak anak akan mencoba mengelabui larangan tersebut, pemerintah Inggris mengatakan akan menerapkan langkah-langkah yang membuat pelanggaran terhadap pembatasan tersebut lebih sulit.
“Pemerintah juga akan belajar dari pengalaman Australia dengan memperkenalkan langkah-langkah verifikasi usia yang lebih efektif untuk mendukung kepatuhan,” dia.
Inggris juga mempertimbangkan langkah-langkah untuk mengatur penggunaan media sosial oleh anak-anak yang lebih tua, seperti jam malam dan jeda dalam pengguliran tak terbatas bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun, dengan rincian lebih lanjut akan diumumkan pada bulan Juli.
Pada ujungnya, dampak perubahan ini akan bergantung pada tingkat sumber daya yang dialokasikan untuk penegakan hukum dan besaran denda yang akan dikenakan pada platform yang gagal menerapkan aturan baru dengan benar.
Negara lain yang telah menyatakan ingin mengikuti langkah ini?
Aturan Australia, yang mulai berlaku pada akhir tahun lalu, memicu inisiatif serupa di seluruh dunia. Lebih dari dua lusin negara telah menyatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan atau bergerak menuju pembatasan mereka sendiri, termasuk Indonesia, Brasil, dan Kanada.
Di AS, meskipun pemerintahan Presiden Donald Trump menentang larangan menyeluruh, putusan juri terhadap beberapa perusahaan dalam beberapa bulan terakhir telah memicu perdebatan publik mengenai dampak negatif media sosial.
“Jika kita melihat Asia Timur, Oseania, Amerika Utara, dan Eropa, ditambah beberapa perkembangan di Amerika Selatan, ini pada dasarnya merupakan fenomena global,” kata Haidt.
(bbn)































