Meski demikian, ia menambahkan bahwa sifat dari perjanjian ini masih berpotensi memicu keretakan hubungan baru di antara kedua belah pihak—terutama terkait poin krusial mengenai pembersihan material nuklir Iran. Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz dipastikan akan membantu menekan harga minyak ke level yang lebih rendah.
“Volatilitas mungkin masih akan bertahan dalam jangka pendek seiring pasar mengevaluasi implementasi dan daya tahan dari kesepakatan ini. Tetapi kami tetap pada pandangan kami bahwa pertumbuhan yang tangguh serta pendapatan korporasi yang kuat akan terus mendorong pasar saham bergerak lebih tinggi,” kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office.
Menurut tim strategi Morgan Stanley yang dipimpin oleh Michael Wilson, bursa saham AS berpotensi mendapatkan dorongan tambahan dari rotasi modal ke sektor-sektor yang sensitif terhadap kondisi ekonomi, yang sempat tertinggal selama perang berlangsung. Senada dengan hal itu, Mislav Matejka dari JPMorgan Chase & Co menilai bahwa pergeseran investasi ke saham-saham siklikal berada di jalur yang tepat untuk tetap menjadi "strategi yang menguntungkan" hingga akhir tahun, dengan catatan ketegangan geopolitik mereda serta pendapatan korporasi dan inflasi tetap stabil.
“Kami percaya meredanya ketegangan geopolitik dapat membantu mengurangi tekanan inflasi dan menurunkan imbal hasil (yield) obligasi. Hal ini berpotensi mendorong rotasi modal ke sektor siklikal dan area pasar yang sebelumnya sempat tertinggal,” ungkap Angelo Kourkafas dari Edward Jones.
Di pasar Asia, mata uang yen Jepang bergerak melemah tipis pada perdagangan Senin kemarin menjelang rapat Bank Sentral Jepang (BOJ). Para pembuat kebijakan di BOJ diperkirakan secara luas akan menaikkan suku bunga acuan mereka ke level tertinggi sejak tahun 1995. Sementara itu, Bank Sentral Australia diproyeksikan akan menahan suku bunga acuannya setelah sempat melakukan beberapa kali kenaikan pada awal tahun ini.
Seiring dengan merosotnya harga minyak, para pelaku pasar swap kini memperkirakan peluang yang lebih rendah bagi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk menaikkan suku bunga pada bulan Desember mendatang. The Fed dijadwalkan akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter terbaru mereka pada hari Rabu (17/6). Para ekonom memperkirakan bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75% sambil terus memantau sejauh mana dampak lonjakan harga energi akibat perang tersebut memengaruhi perekonomian global.
(bbn)


























