BI Rate Naik, Ekonom Wanti-wanti Bunga Kredit & Tekanan Daya Beli
Redaksi
14 June 2026 14:30

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate berpotensi memberi tekanan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, Chief Economist BTN Myrdal Gunarto memandang keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi akan tetap menjadi faktor penting dalam arah kebijakan moneter ke depan.
"Ke depan, kami melihat ruang penyesuaian BI-Rate akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi, arus modal asing, serta dinamika ekonomi global," kata Myrdal kepada Bloomberg Technoz, dikutip Minggu (14/6/2026).
Dengan asumsi tekanan eksternal mulai mereda dan stabilitas nilai tukar dapat terjaga, lanjut dia, ruang kenaikan suku bunga lanjutan diperkirakan relatif terbatas. Namun demikian, BI diperkirakan tetap akan mempertahankan fleksibilitas kebijakan guna merespons perubahan kondisi pasar secara cepat dan terukur.
Sebelumnya, pada 9 Juni 2026, BI memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%, disertai kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%.





























