“Jika 10%—15% saja pengguna Pertamax pindah ke Pertalite, beban subsidi dapat naik signifikan. Ironisnya, kebijakan yang dimaksudkan untuk mengurangi tekanan fiskal justru bisa menciptakan tekanan baru, apalagi kalau [terjadi] migrasi besar-besaran,” kata Badiul.
Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menaksir harga keekonomian Pertamax pada awal Juni mencapai Rp16.427/liter.
Dia meramal kebutuhan dana untuk menanggung selisih harga jual Pertamax tersebut menembus Rp2,2 triliun sampai Rp2,3 triliun per bulan
Josua menjelaskan taksasi tersebut didasari oleh perhitungan penurunan harga minyak mentah acuan dunia di bawah US$100/barel (bbl) serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang secara tahun kalender rata-ratanya berada di atas Rp17.000/US$.
Dia mencatat rata-rata harga minyak mentah Brent sepanjang Januari hingga akhir Mei 2026 sekitar US$88,5/bbl dan nilai tukar rupiah untuk periode yang sama sebesar Rp17.057/US$.
“Untuk Pertamax RON 92, nilai keekonomiannya kemungkinan berada di sekitar Rp16.427/liter. Rujukan sebelumnya menunjukkan bahwa pada skenario ICP US$100/bbl dan kurs Rp17.000/US$, harga keekonomian Pertamax bisa mencapai sekitar Rp17.800/liter,” kata Josua ketika dihubungi, Selasa (2/6/2026).
Dia menyatakan selisih harga keekonomian Pertamax dengan harga jual sekitar Rp3.827—Rp4.127/liter yang ditanggung oleh Pertamina bakal menembus Rp2,2 triliun sampai Rp2,3 triliun jika dihitung dengan rata-rata konsumsi Pertamax sekitar 565 juta liter per bulan.
Hari ini, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah dan mengevaluasi harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti aturan yang berlaku.
“Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” kata Roberth dalam siaran pers, Rabu (10/6/2026).
Dia juga mengungkapkan harga BBM bersubsidi jenis bensin dan solar atau Pertalite serta Solar, tetap ditahan harganya masing-masing Rp10.000/liter dan Rp6.800/liter.
Adapun, PT Pertamina Patra Niaga sempat mengonfirmasi harga keekonomian Pertamax sudah menembus sekitar Rp17.000-an/liter, ketika harga minyak dunia mengamuk.
Akan tetapi, atas hasil diskusi dengan pemerintah, perseroan memutuskan menahan harga Pertamax di level Rp12.300/liter sejak April.
Roberth mengungkapkan perseroan bakal menanggung selisih harga jual dan keekonomian Pertamax terlebih dahulu.
Setelah itu, pemerintah bakal membayarkan kompensasi energi dengan besaran yang bakal didiskusikan dan dibayarkan sesuai aturan yang berlaku.
“Ya, kurang lebih begitu kalau range hargannya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an/liter],” kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).
“Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan,” tegas dia.
Sekadar catatan, anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada 2026 dipagu senilai Rp381,3 triliun untuk BBM, gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg, dan listrik.
(azr/wdh)



























