Logo Bloomberg Technoz

Terlebih, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) kembali terjadi, disusul dengan harga minyak mentah dunia yang melonjak, karena ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. 

Penurunan devisa memang terjadi setelah rupiah mengalami tekanan berkepanjangan sepanjang tahun ini, bahkan kini telah menembus level psikologis Rp18.000/US$ untuk pertama kali dalam sejarah.  Sebagai catatan, secara year-to-date alias sejak awal tahun, rupiah telah tergerus sebanyak 8,14%, dan menjadi mata uang  dengan kinerja terburuk di Asia.

Arus modal asing yang keluar dari pasar domestik juga memperberat tekanan. Investor global tercatat telah menarik lebih dari US$3,5 miliar dari pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. Di saat yang sama, indeks saham Jakarta telah kehilangan lebih dari 30% nilainya, mencerminkan memburuknya sentimen terhadap aset-aset Indonesia.

Ekspor Tergerus Impor

Pelemahan rupiah yang semakin tajam terjadi pada kuartal kedua tahun ini semakim memicu BI untuk melakukan intervensi di pasar dengan menambah kepemilikan obligasi pemerintah. Saat ini, BI memegang sekitar 27% total obligasi pemerintah.

Pada kuartal yang sama, surplus neraca dagang Indonesia juga menyusut tajam dengan adanya tekanan pada sektor eksternal yang meningkat. Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan hanya US$0,09 miliar pada April 2026, menyempit dibandingkan surplus US$0,2 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut juga jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar US$1,50 miliar.

Angka ini juga menjadi surplus perdagangan terkecil sejak Indonesia sempat mengalami defisit neraca dagang pada awal pandemi, tepatnya April 2020. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia semakin meningkat meskipun ekspor mengalami lonjakan yang cukup kuat.

Sebagai catatan, kinerja perdagangan April sebenarnya cukup baik ditandai dengan pulihnya ekspor yang cukup kuat. Ekspor tercatat tumbuh 21,98% secara tahunan, berbalik dari kontraksi bulan sebelumnya 3,1% secara tahunan pada Maret. 

Kinerja ekspor ini tertopang oleh ekspor nonmigas yang melonjak 23,36%, didukung oleh peningkatan pengiriman barang ke sejumlah mitra dagang utama seperti AS, China, Jepang, sert kawasan ASEAN. 

Namun, kuatnya pertumbuhan ekspor juga tergerus oleh lonjakan impor yang bahkan lebih tinggi. Total impor melonjak 22,49% secara tahunan, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan 1,51% pada Maret. 

Impor migas mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 85,52%. Hal ini mengindikasikan adanya kebutuhan tinggi akan energi dan produk minyak olahan di tengah kondisi volatilitas geopolitik yang belum usai. 

Di sisi lain, impor nonmigas juga tercatat naik 14,11%, yang disebabkan oleh upaya pelaku usaha untuk mengamankan pasokan lebih awal sebelum pelemahan rupiah semakin dalam dan dapat meningkatkan biaya impor. 

Kondisi surplus yang semakin tipis ini memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap posisi eksternal Indonesia. 

Kini, dengan cadangan devisa yang semakin menyusut dan pergerakan rupiah yang semakin volatil, kemungkinan akan membuat pemerintah tetap waspada terhadap risiko stabilitas, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari sisi eksternal. 

Samuel Sekuritas memperkirakan Indonesia masih akan mencatat surplus perdagangan sepanjang 2026, meski nilainya akan jauh lebih kecil daripada tahun-tahun sebelumnya. 

BI dan pemerintah menegaskan akan tetap memperkuat koordinasi untuk meningkatkan minat investor asing terhadap aset-aset Indonesia di tengah gejolak rupiah yang terjadi. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menaikkan imbal hasil atas simpanan dana pemerintah di bank sentral sekaligus mendorong masuknya kembali arus modal asing ke pasar keuangan domestik. 

(dsp/aji)

No more pages