Logo Bloomberg Technoz

"Eskalasi antara Israel dan Iran akhir pekan ini kembali memperlihatkan kepada kita betapa rapuhnya gencatan senjata yang ada," kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates. "Meningkatnya permusuhan ini memperbesar risiko geopolitik bahwa Selat Hormuz bisa ditutup lebih lama dari perkiraan. Situasi ini juga memperbesar peluang Iran untuk mengambil langkah tambahan dalam membatasi jalur pelayaran di Laut Merah."

Sebelum insiden ini terjadi, Komando Sentral AS (Centcom) pada hari Minggu menyatakan telah menembak jatuh dua drone tempur Iran yang mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Aksi itu menyusul penembakan enam rudal balistik ke arah Bahrain dan Kuwait pada hari Jumat, yang seluruhnya berhasil dicegat dan dibalas AS dengan menggempur situs-situs radar pengawas pantai milik Iran.

Pergerakan harga minyak:

  • Brent untuk pengiriman Agustus naik 2,9% menjadi US$95,76 per barel pada pukul 06.28 waktu Singapura.
  • Kontrak Brent sebelumnya telah turun 4,8% dalam dua sesi perdagangan terakhir.
  • WTI untuk pengiriman Juli melonjak 2,7% menjadi US$92,94 per barel.

Sejumlah hambatan masih mengganjal kemajuan menuju kesepakatan damai, termasuk perlunya gencatan senjata paralel antara Israel dan Lebanon. Iran menuntut adanya penghentian konflik di Lebanon sebelum kesepakatan dapat dicapai. Seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan kepada CNN bahwa “bola kini berada di tangan Trump.”

Pekan lalu, Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata yang bergantung pada penghentian aksi permusuhan oleh Hizbullah. Namun, kelompok milisi yang didukung Iran tersebut menolak kesepakatan itu. Pertempuran antara pasukan Israel dan Hizbullah terus berlanjut sepanjang akhir pekan.

Bahkan jika kesepakatan damai antara AS dan Iran berhasil dicapai, masih banyak hambatan yang akan menghalangi normalisasi arus pasokan minyak. Di antaranya adalah pembersihan ranjau di Selat Hormuz, kebutuhan waktu berbulan-bulan untuk mengaktifkan kembali ladang minyak yang ditutup, serta perbaikan infrastruktur energi yang rusak akibat serangan rudal dan drone.

Secara terpisah, kelompok OPEC+ menyepakati peningkatan kuota produksi minyak untuk Juli sebesar 188.000 barel per hari. Namun, hambatan ekspor dari kawasan Teluk Persia membuat sebagian besar negara anggota belum dapat merealisasikan peningkatan produksi tersebut.

(bbn)

No more pages