Logo Bloomberg Technoz

Jelang Putusan BI, Rupiah Melemah Tertekan Harga Minyak

Tim Riset Bloomberg Technoz
22 July 2026 09:23

Karyawan membawa mata uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan membawa mata uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar spot melemah 0,36% ke level Rp17.947/US$ pada pembukaan perdagangan Rabu (22/7/2026). Tak lama berselang, mata uang Garuda memangkas sebagian pelemahannya menjadi 0,20% ke posisi Rp17.919/US$ pada 09.10 WIB. 

Kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah menjadi pemicu pelemahan rupiah. Harga minyak Brent kembali terangkat 1,69% menjadi US$92,55 per barel. Mahalnya harga minyak juga membuat sebagian mata uang Asia melemah. 

Mata uang Asia (Bloomberg)

Dari zona merah, baht Thailand melemah paling dalam 0,25%, disusul rupiah 0,26%, lalu ringgit Malaysia dan dolar Singapura. Sebaliknya, dolar Taiwan, won Korea Selatan, dolar Hong Kong berhasil mempertahankan penguatan. 


Dari dalam negeri, fokus pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan sore ini, 14.20 WIB. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan kembali menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6%. 

Ekspektasi ini muncul setelah pelemahan rupiah terjadi diikuti kenaikan harga minyak dan arus keluar dana asing dari pasar obligasi, yang semakin meningkatkan risiko inflasi impor dan mempersempit ruang pelonggaran moneter.