"Kalaupun hari ini Selat Hormuz dibuka, apa kita langsung dapat barang? Enggak kan, butuh waktu sekitar tiga bulan karena di sana perlu masa pemulihan [recovery]. Berarti kita baru dapat barang tahun depan. Artinya sampai akhir tahun ini kita tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar dia.
Untuk jangka pendek, APNI menilai Australia adalah opsi yang paling masuk akal dari sisi efisiensi logistik. Meski produksi sulfur di Australia saat ini masih terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan Indonesia yang masif.
Untuk mengatasi kendala kapasitas tersebut, APNI juga menyarankan pendekatan Government-to-Government (G2G).
“Indonesia bisa menjembatani perusahaan domestik untuk melakukan investasi [chip-in] langsung pada perusahaan sulfur di Australia,” ungkap dia.
Selain Australia, APNI juga membidik kawasan Eropa, salah satunya Bulgaria, sebagai mitra jangka panjang. Berbeda dengan Australia yang unggul dalam hal jarak, Eropa dinilai unggul dalam kepemilikan teknologi pengolahan belerang tingkat lanjut.
Meskipun biaya logistik dari Eropa dipastikan lebih mahal, Meidy menilai kerja sama ini sangat strategis demi terwujudnya transfer teknologi.
"Eropa punya teknologinya. Kita sebenarnya punya bahan bakunya [sulfur] karena banyak gunung berapi. Tapi bagaimana mengolah belerang, itu butuh teknologi mereka. Pemerintah harus memikirkan itu sekarang, jangan menunggu ada kejadian [krisis]," pungkas Meidy.
Sebagai informasi, Sulfur adalah bahan baku yang digunakan dalam produksi produk antara nikel seperti mixed hydroxide precipitate (MHP)—bahan baku baterai—melalui proses pelindian asam bertekanan tinggi. Memproduksi 1 ton MHP umumnya membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur.
Sebelumnya, riset Shanghai Metal Market (SMM) menyebut penutupan Selat Hormuz akan menghambat perdagangan sulfur dunia, termasuk Indonesia.
Data SMM mengungkap lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Pada 2025, Arab Saudi menjadi pemasok terbesar sekitar 1,76 juta ton, Qatar sebanyak 967.000 ton, UEA 918.000 ton, Kanada 515.000 ton, Kuwait 366.000 ton, Malaysia sebesar 146.000 ton, dan Singapura 115.000 ton.
SMM juga mencatat pelabuhan ekspor sulfur utama di Timur Tengah, antara lain Ruwais di UEA, Jubail dan Ras al-Khair di Arab Saudi, Ras Laffan di Qatar, Al Zour dan Shuaiba di Kuwait, dan Bandar Imam Khomeini di Iran harus mengangkut komoditas tersebut melewati Teluk Persia dengan melalui Selat Hormuz.
Dengan begitu, penutupan Selat Hormuz membuat pasokan sulfur dari pelabuhan tersebut tak dapat dimuat dan diekspor.
“Lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama untuk proyek MHP Indonesia akan terputus,” tulis SMM dalam risetnya, dikutip Senin (9/3/2026).
Lebih lanjut, SMM memprediksi penutupan Selat Hormuz bakal memengaruhi biaya produksi dan stabilitas pasokan MHP Indonesia.
“Sebagai produsen utama bahan baku material nikel-kobalt [MHP], proyek HPAL Indonesia sangat bergantung pada belerang Timur Tengah. Gangguan ini akan langsung memengaruhi biaya produksi dan stabilitas pasokan MHP,” tulis SMM.
(smr/ros)


























