Menanggapi hal tersebut, Purbaya tidak menampik bahwa pelemahan nilai tukar yang terjadi ikut berdampak pada besar utang yang dibayar pemerintah. Namun dia menilai sampai saat ini kondisi fiskal masih mampu untuk meredam dampak pelemahan nilai tukar rupiah.
“Cuman pada waktu rupiah melemah, maka pembayaran (utang) dalam rupiah meningkat. Namun, ini masih dalam range perhitungan kami,” tutur Purbaya.
Secara terpisah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan Bank Indonesia (BI) konsisten berada di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya. Tidak hanya itu, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.
“Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara YTD(year to date) melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$146,2 miliar pada akhir April 2026,” kata ujarnya.
Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,” tutur Destry.
Lebih lanjut, BI mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut ini sudah berlangsung dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di April 2026 mencapai sekitar US$22,7 miliar. Sedangkan transaksi LCT selama tahun 2026 mencapai US$25,7 miliar,” tutur dia.
(mfd/ell)



























