Logo Bloomberg Technoz

Adapun level tersebut turut menjadi yang terkecil sejak sejak April 2020 yang defisit US$375,41 juta. Surplus April 2026 menjadi yang terendah selama periode surplus 72 bulan beruntun, mengonfirmasi tekanan perlambatan perekonomian dalam negeri.

Histori IHSG

Berdasarkan data Bloomberg, pada Juni 2025 kemarin IHSG mengalami penurunan 3,46%. Tren turun ini menjadikan angka terdalam, menyusul tren bearish yang terjadi pada Juni 2022 yang melemah mencapai 3,32%.

Namun, berdasarkan data historis pada 2024 IHSG juga sempat mencatatkan penguatan 1,33%. Optimisme ini melanjutkan tren positif dari Juni 2023 setahun sebelumnya yang mencatatkan penguatan 0,43%. Bersamaan dengan kenaikan 0,64% pada Juni 2021.

Pada Juni 2025, tekanan datang dari eksternal maupun internal. Kala itu, IHSG tertekan lantaran isu ketegangan di Timur Tengah yang amat panas. Negeri Paman Sam, Amerika Serikat (AS), terus meningkatkan kekuatan militernya di regional tersebut, dengan mengerahkan skuadron jet tempur tambahan ke teritorial tersebut di tengah eskalasi perang Israel dan Iran.

Ditambah lagi dengan AS yang disebut–sebut terlibat lebih jauh dalam perang antara Israel dan Iran.

Kemudian, tekanan juga terjadi imbas sentimen PMI Manufaktur S&P Global Indonesia yang saat itu terjebak di zona kontraksi, hingga surplus neraca perdagangan menyempit.

PMI Manufaktur S&P Global Indonesia menguat terbatas menjadi 47,4 pada Mei 2025 (dari April: 46,7) dari level terendah dalam 4 tahun, menandakan penurunan yang lebih lambat dalam aktivitas pabrik.

Senada, data surplus perdagangan Indonesia menyempit tajam menjadi US$0,15 miliar pada April 2025 (dari sebelumnya Maret 2025: US$2,72 miliar), jauh di bawah ekspektasi pasar yang memprediksi surplus US$3,04 miliar.

Dari situ, rasanya Juni 2026 bakal bernasib sama dengan Juni 2025 tahun lalu.

Sentimen Bulan Ini

Untuk Juni 2026, ada banyak sentimen dan katalis yang dapat memengaruhi IHSG, salah satunya ialah rilisnya data inflasi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi pada Mei 2026 tercatat 3,08% secara tahunan (year–on–year/yoy). 

Inflasi ini jauh lebih tinggi dibanding proyeksi konsensus yang menilai inflasi Mei 2026 hanya akan mencapai 2,94% yoy. Angka itu juga lebih tinggi ketimbang realisasi inflasi pada April yang sebesar 2,42%.

Selain inflasi, juga terdapat rilis data dari Bank Indonesia (BI), di mana BI melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Kuartal I-2026 defisit US$9,15 miliar. Jauh memburuk dibanding kuartal sebelumnya yang berhasil surplus US$6,07 miliar.

Terlebih lagi defisit NPI pada Kuartal I-2026 sudah melampaui defisit sepanjang tahun 2025 yang sebesar US$7,84 miliar.

Artinya, NPI yang defisit bermakna pasokan valas di dalam negeri sedang dalam posisi kekurangan. Berasal dari ekspor–impor barang dan jasa, investasi langsung, repatriasi, sampai arus modal di pasar keuangan alias hot money.

Selanjutnya pada Juni 2026 ini akan terdapat agenda laporan Cadangan Devisa Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan juga pengumuman penjualan ritel. Termasuk juga akan ada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait suku bunga acuan BI Rate.

Lantas bagaimana arah dan laju IHSG pada Juni 2026?

Analisis Teknikal IHSG

Pergerakan IHSG secara teknikal dengan menggunakan indikator Moving Average (MA) untuk menentukan area level resistance, dan area level support.

Analisis Teknikal IHSG pada Juni 2026 (Riset Bloomberg Technoz)

Berdasarkan indikator MA, laju IHSG saat ini mengonfirmasi tren bearish yang jauh di bawah semua MA, di antaranya MA-50, MA-100, dan MA-200. Selanjutnya terdapat level yang sangat menarik dicermati pada support terdekat yang tercermin dari trendline pelemahan di level 5.600. 

Apabila support pertama tersebut ditembus, ditambah lagi dengan volume yang signifikan, IHSG ada potensi melanjutkan tren pelemahan menuju 5.400 sampai dengan level 5.200. Adapun level stop loss berada di area 5.000.

Sedang untuk resistance IHSG masih solid pada level 6.200, dan 6.400, juga sebagai level psikologisnya 6.500. 

Sebagai gambaran, MA merupakan indikator harga rata–rata dalam rentang tertentu, yang kemudian dihubungkan ke dalam bentuk garis.

Melihat berbagai katalis dan sentimen yang ada, serta indikator teknikal, prospek pelemahan IHSG masih kemungkinan berlanjut sampai dengan penghujung Juni 2026 dengan harapan support terkuat menopang di level 5.600 hingga 5.200.

Menelisik Bursa Tetangga

Adapun jika dibandingkan dengan indeks regional, atau rekan-rekannya di Asia, tercatat indeks NIKKEI 225 Tokyo Stock Exchange melejit 2,69%, Korea Stock Exchange atau KOSPI menguat 1,85%, dan Hang Seng Index Hong Kong mencatatkan penguatan 1,21%. Sedang hanya Straits Times Index Singapore yang terdepresiasi 0,39% dan FTSE Bursa Malaysia KLCI Index drop 2,15% pada data rata–rata perdagangan saham dalam 5 tahun.

Data Historis Bursa Malaysia KLCI Indeks pada Maret (Bloomberg Seasonality)

Jika mencermati lebih lanjut, koreksi paling dalam secara historis dihadapi oleh indeks KLCI Malaysia Index dengan minus 2,15%. Adapun kala itu pada Juni 2022 indeks KLCI mencatatkan minus mencapai 8,02%.

Efek secara langsung dari meningkatnya kekhawatiran terhadap resesi ekonomi setelah kenaikan suku bunga yang agresif dari sejumlah bank sentral dunia yang menjadi perhatian utama saat itu, beserta sentimen inflasi global yang menghantam perekonomian Malaysia, hingga diwarnai oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen.

(fad)

No more pages