Logo Bloomberg Technoz

"Tinggal menunggu pembersihan ranjau di beberapa titik area saja," imbuh Trump. Namun, sejauh ini pihak Teheran masih menolak syarat-syarat damai yang diajukan Trump dan belum menyetujui kesepakatan apa pun.

Dalam kesempatan tersebut, Trump juga secara tersirat membenarkan adanya rute alternatif rahasia yang diambil oleh sejumlah kapal di sepanjang pesisir Oman, dengan pengawalan dari militer AS jika diperlukan—sebuah jalur senyap yang sebelumnya sempat dilaporkan oleh Bloomberg News.

"Itu akan terjadi dengan sangat cepat, dan lagipula kami akan mengambil rute selatan," kata sang Presiden.

Penutupan efektif Selat Hormuz yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu telah menyulut krisis energi global. Membuka kembali jalur perairan strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi dunia ini kini menjadi salah satu target utama Trump dalam upayanya memaksakan perjanjian damai dengan Teheran.

Tak lama setelah Trump menyampaikan pernyataan tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS yang dikuasai Partai Republik memberikan suara untuk menghentikan perang. Langkah itu mencerminkan meningkatnya kecemasan politik di Washington terhadap konflik luar negeri yang tidak populer dan semakin membebani perekonomian masyarakat Amerika, lima bulan menjelang pemilu paruh waktu yang akan menentukan kendali atas Kongres.

Sebelumnya pada Rabu (3/6), Trump melakukan percakapan telepon dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, menurut Kantor Berita Qatar (QNA). Dalam pembicaraan itu, sang emir menekankan "pentingnya mengutamakan solusi politik, diplomasi, dan dialog antara semua pihak."

Kedua pemimpin berbicara setelah Iran menyerang pangkalan utama angkatan laut AS di kawasan yang berada di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait. Setidaknya satu orang tewas dalam serangan terpisah terhadap bandara sipil Kuwait yang menyebabkan kerusakan signifikan dan memaksa penghentian sementara operasional penerbangan selama beberapa jam.

Para pemimpin negara-negara Teluk masih memiliki ingatan yang sangat segar mengenai bagaimana citra kawasan mereka sebagai pusat bisnis internasional yang aman dan ramah mendadak runtuh ketika rezim Iran yang tertekan melancarkan serangan balasan setelah perang dengan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari.

Militer AS mengatakan pihaknya menjadi sasaran serangan rudal dan drone tidak lama setelah menyerang sebuah kapal tanker minyak kosong yang sedang menuju Iran pada Selasa.

Pasukan Amerika juga menyerang sebuah menara komunikasi di Pulau Qeshm, Iran, yang berada dekat Selat Hormuz, sebagai bagian dari bentrokan tersebut. AS menuduh Iran mengirim drone untuk menyerang kapal-kapal komersial.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang pekan ini menghadiri sidang di Senat dan DPR AS, mengatakan Iran telah menempatkan ranjau di sebagian besar wilayah Selat Hormuz dan bahwa pelayaran komersial masih menghadapi ancaman dari drone Iran.

Washington dan Teheran telah menyepakati kerangka awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua bulan dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, negosiasi mengenai rincian akhir kesepakatan masih berlangsung alot.

Di saat yang sama, operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon semakin memperumit proses negosiasi tersebut.

Dalam percakapan telepon pada Senin, Trump mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membatalkan rencana pengeboman terhadap Beirut, ibu kota Lebanon.

Trump pada Rabu mengonfirmasi bahwa dirinya sempat menggunakan kata-kata kasar dalam percakapan yang berlangsung tegang tersebut.

"Saya sedikit kesal karena dia terus bertempur dengan Lebanon," kata Trump dalam wawancara di podcast Pod Force One yang ditayangkan pada Rabu.

Namun, Netanyahu dalam wawancara dengan CNBC yang juga ditayangkan pada Rabu menegaskan bahwa hubungannya dengan Trump tidak berubah.

"Dia adalah sahabat terbesar yang pernah dimiliki Israel di Gedung Putih," kata Netanyahu.

(bbn)

No more pages