Di sisi lain, kantor berita Iran, Mehr, melaporkan bahwa para pejabat di Teheran tengah mendiskusikan "draf akhir" teks kesepakatan untuk dikirimkan ke AS. Fokus utama pasar minyak saat ini tertahan pada Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global sebelum perang pecah. Hingga kini, lalu lintas perdagangan komersial yang terlihat di jalur perairan tersebut dilaporkan masih sangat terbatas.
Meski dunia usaha harus menghadapi lonjakan biaya energi akibat perang Iran, data lapangan pekerjaan AS secara mengejutkan melonjak pada bulan April ke level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, dibarengi dengan penurunan angka PHK. Hal ini memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS masih sangat tangguh.
"Pasar tenaga kerja terus mempertahankan posisinya," kata Bret Kenwell dari eToro. "Ada harapan bahwa harga energi akan turun setelah lonjakan akibat isu geopolitik pada kuartal pertama. Kondisi ini memungkinkan The Fed untuk menahan suku bunga sementara inflasi mereda di paruh kedua tahun ini. Jika hal itu berpadu dengan ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan, maka harga saham bisa terdorong lebih tinggi."
CEO Goldman Sachs Group Inc, David Solomon, menilai bahwa lonjakan tajam di pasar saham saat ini didorong oleh besarnya minat investor untuk meraih keuntungan, yang mengalahkan kekhawatiran terhadap risiko inflasi dan gangguan ekonomi.
"Kita pastinya sedang berada di momen di mana keserakahan (greed) jauh lebih besar daripada rasa takut (fear)," ujar Solomon saat berbicara di Economic Club of New York pada hari Selasa. "Dana modal itu tersedia."
Dari pasar valuta asing, mata uang yen bergerak melemah mendekati level 160 per dolar AS pada perdagangan Selasa, seiring langkah para pelaku pasar yang menanti pidato Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga. Sementara itu, indeks dolar AS bergerak stabil dan pasar obligasi (Treasury) ditutup bervariasi pada sesi perdagangan di AS.
Di sektor investasi lainnya, penjualan obligasi berperingkat layak investasi (investment-grade) di AS telah menembus angka US$1 triliun. Angka ini tercapai jauh lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak 2020. Kondisi ini dipicu oleh selisih imbal hasil (spread) yang rendah secara historis serta lonjakan belanja perusahaan untuk pengembangan AI yang mendorong perusahaan-perusahaan papan atas untuk menarik pinjaman. Sebaliknya, memburuknya sentimen terhadap Bitcoin membuat aset digital terbesar di dunia tersebut bergerak merosot.
(bbn)




























