Selain IPP, PLN juga melakukan pembelian listrik dari pihak berelasi dengan PLN (anak perusahaan atau perusahaan yang memiliki hubungan kepemilikan/pengendalian khusus).
Jika dirinci, pembelian listrik dari IPP jauh lebih besar senilai Rp148,75 triliun dibandingkan pembelian melalui pembangkit yang memiliki afiliasi dengan PLN sebesar Rp46,46 triliun.
Sehingga, total yang harus dikeluarkan oleh PLN ialah sebanyak Rp195,21 triliun atau naik sebesar 9,28% dibandingkan dengan pembelian sepanjang 2024 senilai Rp178,63 triliun.
Di sisi pendapatan, PLN membukukan total pendapatan usaha sebesar Rp582,68 triliun sepanjang tahun 2025.
Realisasi ini ditopang oleh penjualan tenaga listrik senilai Rp367,08 triliun, serta didukung oleh pendapatan subsidi listrik dan kompensasi dari pemerintah.
Meskipun pendapatan usaha mengalami pertumbuhan, peningkatan pada pos-pos beban operasi memengaruhi raihan laba perusahaan. Laba usaha PLN tercatat turun menjadi Rp49,22 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp60,62 triliun.
Setelah diakumulasikan dengan pos non-operasional termasuk kerugian kurs, laba bersih tahun berjalan PLN berada di angka Rp7,26 triliun, atau turun sebesar 65,8% dari pencapaian tahun sebelumnya sebesar Rp21,23 triliun.
(smr/ros)





























