Inti dari keluhan Presiden AS Donald Trump terhadap Beijing adalah ketidaksetaraan persaingan dalam industri global seperti otomotif — kekhawatiran yang juga semakin lantang disuarakan para pejabat di European Union ketika produsen mobil Eropa kesulitan mempertahankan pangsa pasar dari para pesaing China, termasuk BYD Co. dan Chery Automobile Co..
Perdebatan mengenai subsidi selama bertahun-tahun menjadi kabur akibat kurangnya transparansi dan tidak lengkapnya pelaporan kepada organisasi seperti World Trade Organization.
Menurut laporan tahun 2025 dari Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR), “sejak bergabung dengan WTO lebih dari 20 tahun lalu, China belum menyerahkan pemberitahuan yang lengkap kepada WTO mengenai subsidi yang diberikan oleh pemerintah pusat.”
Inisiatif OECD bertujuan memberikan kejelasan mengenai isu kontroversial tersebut dengan menunjukkan jumlah subsidi yang benar-benar diterima perusahaan. OECD melakukannya melalui kajian dokumen perusahaan untuk melacak hibah, keringanan pajak, dan pinjaman berbunga rendah. Pada 2024, total subsidi untuk sektor-sektor yang tercakup dalam basis data itu mencapai US$108 miliar.
“Subsidi industri meningkat di seluruh dunia, tetapi selama beberapa dekade kita tidak memiliki gambaran yang andal, komprehensif, dan dapat dibandingkan mengenai apa yang sebenarnya diberikan pemerintah dan apa yang sebenarnya diterima perusahaan,” kata Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann, dalam sebuah presentasi di Paris. “Subsidi bukan hanya persoalan fiskal, tetapi juga sedang membentuk ulang pasar global.”
Peralatan energi terbarukan, semikonduktor, dan industri berat merupakan sektor-sektor yang menerima dukungan terbesar. China kembali menjadi yang terdepan, dengan rata-rata subsidi untuk industri semikonduktor mencapai hampir 10% dari pendapatan perusahaan pada 2021 dan 2022, sementara rata-rata global hanya sedikit di atas 2%.
(bbn)



























