Dalam kesempatan itu, Widiyanti mengungkapkan Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara, dengan hampir 7 juta kunjungan di antaranya terkonsentrasi di Bali.
"Angka ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia sebagai destinasi pariwisata sekaligus tujuan investasi, dan Bali tetap menjadi jantung pertumbuhan pariwisata nasional," katanya.
Meski demikian, ia menilai peluang investasi di luar Bali masih sangat besar. Karena itu, pemerintah mendorong investor untuk melihat potensi yang dimiliki berbagai destinasi lain guna menciptakan industri pariwisata yang lebih seimbang, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui forum Investor Roundtable 2026, Kementerian Pariwisata juga menyerap berbagai masukan dari investor, pemerintah daerah, asosiasi, hingga pelaku usaha pariwisata terkait tantangan di lapangan serta dukungan yang diperlukan untuk memperkuat iklim investasi sektor tersebut.
Masukan tersebut akan menjadi bahan penting dalam penyusunan kebijakan investasi pariwisata yang lebih hijau, kompetitif, inklusif, dan merata pada masa mendatang.
Selain itu, Widiyanti mengungkapkan pihaknya tengah menyiapkan sistem verifikasi berbasis Application Programming Interface (API) untuk memastikan seluruh akomodasi yang dipasarkan melalui platform digital telah memiliki Perizinan Berusaha. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan tata kelola ekosistem usaha pariwisata, khususnya sektor akomodasi di Bali.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani, mengatakan forum tersebut menjadi ruang dialog yang mempertemukan pemerintah, Pemerintah Provinsi Bali, asosiasi pariwisata, investor, serta pelaku usaha untuk membahas perkembangan industri dan peluang investasi.
Menurut Rizki, pengalaman serta masukan dari pelaku industri pariwisata di Bali memiliki nilai strategis untuk menjadi referensi dalam pengembangan destinasi-destinasi prioritas nasional.
"Kami memandang masukan ini sangat berharga, tidak hanya untuk memperkuat ekosistem investasi pariwisata Bali, tetapi juga sebagai pembelajaran penting dalam pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan Destinasi Pariwisata Regeneratif lainnya," ujar Rizki.
(dec)





























