Upaya AS dan Iran untuk merundingkan gencatan senjata juga turut mendorong kenaikan harga logam, sementara antusiasme terhadap aset-aset yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) turut merembet ke pasar tembaga.
Goldman Sachs Group Inc. menaikkan proyeksi harga tembaga di London Metal Exchange (LME), dengan meningkatkan perkiraan akhir tahun lebih dari 10% karena melihat penimbunan stok oleh AS serta pasokan tambang yang lebih lemah dari perkiraan akan membuat pasar tetap ketat.
Tembaga diperkirakan akan mengakhiri 2026 di level US$13.735 per ton, dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar US$12.465 per ton.
"Impor AS melampaui ekspektasi pada semester I-2026, dan kami memperkirakan impor AS akan kembali meningkat dalam sebulan mendatang, mencerminkan peluang arbitrase impor yang kini terbuka," tulis para analis yang dipimpin Aurelia Waltham dalam sebuah catatan.
Skenario dasar bank tersebut adalah AS kembali menunda penerapan tarif atas tembaga olahan.
Departemen Perdagangan AS mengejutkan pasar tembaga tahun lalu dengan keputusan untuk tidak mengenakan pungutan, dan justru merekomendasikan penerapan tarif secara bertahap mulai 15% pada hari pertama 2027.
Rekomendasi itulah yang diperkirakan akan ditinjau kembali oleh departemen tersebut sebelum akhir bulan ini.
Harga tembaga di LME naik 0,4% menjadi US$13.687,50 per ton pada Senin pukul 11:44 waktu Shanghai. Sementara itu, kontrak tembaga di Comex mengarah ke penutupan tertinggi sejak 14 Mei setelah naik 1% menjadi US$6,45 per pon.
Logam-logam lainnya juga menguat di London seiring investor memantau perkembangan terbaru dari Timur Tengah. AS dan Iran masih bernegosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz.
Meskipun peluang tercapainya kesepakatan masih terlihat belum pasti, tanda-tanda kemajuan telah meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan yang lebih buruk bagi perekonomian global dan permintaan logam.
(bbn)






























