BMKG menegaskan bahwa kondisi cuaca yang dinamis ini dipicu oleh atmosfer yang masih cukup lembab, sehingga potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi masih sangat besar. Cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini wajib menjadi perhatian utama dalam perencanaan mobilitas masyarakat, baik untuk perjalanan darat, laut, udara, maupun kegiatan luar ruang seperti olahraga dan wisata.
Menghadapi potensi cuaca signifikan tersebut, BMKG meminta masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kesiapsiagaan di lapangan. Dalam hal ini, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
“Masyarakat diimbau mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh, serta membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai angin kencang dan petir,” lanjut BMKG.
Lebih lanjut, bagi wilayah yang saat ini sudah memasuki musim kemarau atau berada dalam periode peralihan (pancaroba), BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak lengah karena kemarau bukan berarti sama sekali tidak ada hujan.
(cpa/del)
































