Mengutip keterbukaan informasi, transaksi saham antar dua investor intitusi SUPA itu menjadi bagian dari upaya restrukturisasi internal perusahaan.
Adapun, GXS Bank merupakan usaha patungan antara Grab Holdings dan Singtel. Sekitar 60% saham GXS Bank dipegang oleh Grab dan sisanya dihimpit oleh Singtel.
Restrukturisasi saham itu belakangan makin memperkuat posisi Grab di SUPA. Grab lewat Kudo Teknologi Indonesia dan A5-DB Holdings Pte. Ltd sebelumnya telah menghimpit saham SUPA masing-masing 16,6% dan 15,94%.
Adapun, Elang Media Visitama menguasai 27,59% saham SUPA, mencerminkan kepemilikan 9,35 miliar saham.
Sementara investor institusi lain dari SUPA, Kakaobank Corp menghimpit 8,65% saham.
Balik Untung
Sebelumnya, SUPA mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 dengan membukukan laba bersih setelah merugi pada tahun sebelumnya.
Bank digital yang terafiliasi dengan ekosistem Grab dan Emtek tersebut juga menunjukkan ekspansi agresif pasca penawaran umum perdana saham (IPO) akhir tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, Super Bank mencatat laba bersih Rp99,68 miliar, berbalik dari rugi Rp366,37 miliar pada 2024 atau meningkat sekitar 127,2% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Perbaikan kinerja ini terutama ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang mencapai Rp1,58 triliun pada 2025, meningkat dari Rp606,84 miliar pada 2024 atau tumbuh sekitar 159,7% yoy.
Di sisi lain, total beban operasional tercatat Rp1,47 triliun, meningkat dari Rp1,03 triliun pada tahun sebelumnya atau naik sekitar 43,2% yoy.
Beban tersebut terdiri dari beban umum dan administrasi Rp711,57 miliar, beban tenaga kerja Rp440,38 miliar, serta beban kerugian penurunan nilai aset keuangan Rp319,73 miliar.
Dari sisi neraca keuangan, ekspansi bisnis bank digital tersebut tercermin dari pertumbuhan aset yang signifikan.
Total aset Super Bank melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp21,28 triliun pada 2025, dibandingkan Rp11,39 triliun pada tahun sebelumnya atau meningkat sekitar 86,8% yoy.
Super Bank sebelumnya melaksanakan IPO pada Desember 2025 dengan menawarkan 4,41 miliar saham kepada publik pada harga Rp635 per saham, sehingga menghimpun dana sekitar Rp2,79 triliun.
Dana tersebut memperkuat struktur permodalan bank untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
(naw)




























