Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, depresiasi rupiah yang berlanjut ke level Rp17.874 per dolar AS turut menambah tekanan pada IHSG akhir bulan ini.

Adapun saham kesehatan, saham properti, dan saham keuangan melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 1,49%, 1,09%, dan 1,04%.

Praktisi Pasar Modal Hans Kwee, mengatakan bahwa kondisi ini merupakan bagian dari dinamika pasar yang lazim terjadi saat periode penyesuaian indeks global.

“Melihat pola pergerakan saham pasca pengumuman MSCI, kemungkinan sebagian besar fund manager telah melakukan penyesuaian portofolio tanpa menunggu sampai tanggal terakhir 29 Mei 2026,” kata Hans dalam keterangannya, dikutip Jumat (29/5/2026).

Hans menambahkan, potensi pelemahan masih dapat terjadi terutama pada saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Small Cap Index.

Di sisi lain, Hans melihat sebagian emiten yang keluar dari indeks tetap memiliki fundamental yang solid serta prospek jangka panjang yang menarik.

Malahan, momentum pasca rebalancing dinilai berpotensi menjadi titik balik bagi pergerakan pasar saham domestik.

Sebelumnya, MSCI membekukan penambahan konstituen dari bursa saham Indonesia untuk kategori MSCI Global Standard Index.

Pada saat yang sama, sejumlah saham konstituen Indonesia terdepak dari jajaran MSCI Global Standard Index.

Berdasarkan publikasi resmi MSCI, saham yang terdepak adalah AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.

Dari deretan saham tersebut, hanya AMRT yang tidak sepenuhnya keluar dari seluruh kategori indeks yang diterbitkan MSCI.

Posisi AMRT bergeser ke kategori MSCI Small Cap Indexes. Sementara, sebanyak 13 saham keluar dari kategori ini.

Belasan saham tersebut adalah, ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, TAPG.

MSCI akan melakukan review periode berikutnya pada 12 Agustus 2026. Hasil review periode ini akan berlaku pada 1 September 2026.

Saham–saham big caps pemberat IHSG Jumat (29/5/2026)

  1. Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 25,9 poin
  2. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 18,92 poin
  3. Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 6,29 poin
  4. Astra International (ASII) mengurangi 5,01 poin
  5. Bank Negara Indonesia (BBNI) mengurangi 4,55 poin
  6. Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 3,93 poin
  7. Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 3,43 poin
  8. Pacific Strategic Financial (APIC) mengurangi 2,83 poin
  9. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) mengurangi 2,65 poin
  10. Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 2,39 poin

Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat laju IHSG, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) drop 6,11%, dan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dengan penurunan 5,22%.

Senada dengan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang turun 4,79%, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) amblas 4,67%, dan juga saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melemah 4,26% hingga menjadi pemberat IHSG.

Sebagian Bursa Asia justru berhasil melenggang di zona hijau. KOSPI (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Jepang), TW Weighted Index (Taiwan), TOPIX (Jepang), Straits Times (Singapura), dan Hang Seng (Hong Kong), yang berhasil menguat pada tutup dagang akhir pekan ini.

(naw)

No more pages