Logo Bloomberg Technoz

Perkembangan di Timur Tengah memang menjadi faktor utama penggerak harga emas. Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut-sebut sudah menyepakati masa gencatan senjata selama 60 hari ke depan.

Presiden AS Donald Trump dalam cuitan di media sosial menyebut dirinya akan membuat “keputusan final” soal kesepakatan tersebut. Namun New York Times mengungkapkan bahwa Trump meninggalkan rapat yang berlangsung selama dua jam tanpa keputusan apa-apa.

Selama belum tercipta damai di Timur Tengah, maka ancaman harga energi tinggi masih akan menghantui perekonomian dunia. Akibatnya, bank sentral akan sulit melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.

Analisis Teknikal

Lantas bagaimana prediksi harga emas untuk Juni? Apakah bakal turun lagi atau bisa bangkit berdiri?

Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame), emas sudah nyaman di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 71.

RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun RSI di atas 70 juga menjadi sinyal sudah tergolong jenuh beli (overbought).

Meski begitu, indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh nol. Paling kecil, sudah sangat jenuh jual (oversold).

Pada Juni, ada kemungkinan harga emas bisa naik. Cermati pivot point di US$ 4.674/troy ons.

Dari situ, harga emas berpotensi mengetes resisten US$ 4.756-4.838/troy ons. Resisten lanjutan ada di rentang US$ 4.909-5.054/troy ons, dengan target paling optimistis di US$ 5.192/troy ons.

Sementara andai harga emas turun lagi, maka US$ 4.529/troy ons sepertinya akan menjadi support terdekat, Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga ke level US$ 4.448-4.376/troy ons.

Target support berikutnya ada di kisaran US$ 4.294-4.079/troy ons. Target paling pesimistis adalah US$ 4.053/troy ons.

(aji)

No more pages