Logo Bloomberg Technoz

"Kendati demikian, lebih lemah tidak berarti rupiah tidak bisa menguat," tuturnya. 

Dari sisi nilai wajar, beberapa estimasi berbasis nilai tukar efektif riil masih menunjukkan rupiah berada di bawah nilai wajarnya, dengan estimasi fair value sekitar di bawah level Rp17.000/US$. Masalahnya, kata dia, pasar jangka pendek tidak hanya bergerak berdasarkan nilai wajar, tetapi berdasarkan risiko, sentimen, dan kebutuhan dolar riil.

“Jadi, asumsi rupiah Rp16.800/US$ sampai Rp17.500/US$ pada KEM-PPKF 2027 layak jika dipahami sebagai rata-rata atau kisaran kebijakan, bukan janji level harian,” jelas dia.  

Josua berpandangan rupiah bisa saja sesekali melemah melewati Rp17.500/US$, terutama saat kebutuhan dolar tinggi atau harga minyak naik, tetapi rata-rata tahunan masih dapat dijaga dalam kisaran tersebut bila Bank Indonesia (BI) tetap kredibel dan pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal. 

Dia menjabarkan cadangan devisa pada April 2026 masih tinggi sebesar US$146,2 miliar, setara 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, tetapi sudah turun dari US$148,2 miliar pada Maret karena pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi rupiah. 

“Ini menunjukkan bantalan masih ada, tetapi tidak boleh digunakan tanpa batas,” ungkapnya. 

Nilai Tukar Rupiah Kredibel dengan 3 Syarat

Dalam kaitan itu, jika dilihat dari sisi pasar, kata Josua, asumsi rupiah dalam rancangan APBN 2027 akan dianggap kredibel jika pemerintah bisa menunjukkan tiga hal. Pertama, defisit fiskal benar-benar dijaga di rentang 1,80 sampai 2,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan tidak diperlebar oleh subsidi atau kompensasi energi yang tidak terkendali. 

Kedua, pembiayaan APBN dikelola hati-hati agar imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tidak naik terlalu tinggi. Ketiga, kebijakan ekonomi tidak menambah ketidakpastian bagi investor, khususnya terkait Danantara, pengelolaan ekspor komoditas, perpajakan, royalti, dan kepastian investasi. 

“Jika ketiga hal ini tidak dijaga, pasar bisa meminta premi risiko lebih tinggi dan asumsi rupiah menjadi kurang meyakinkan meskipun secara angka masih terlihat masuk akal,” ujar Josua. 

Diketahui, rupiah dalam beberapa bulan terakhir mengalami pelemahan bahkan mencetak rekor sejarah baru karena menyentuh Rp18.000/US$ pada sesi perdagangan kemarin (28/5/2026), tepatnya Rp17.984/US$ pukul 10:57 WIB. Rupiah terdepresiasi lantaran harga minyak dunia yang terus melambung di tengah konflik Timur Tengah. 

Menurut Josua, jika tekanan global mereda, harga minyak turun dari level tinggi, arus modal kembali masuk, dan defisit transaksi berjalan tetap terkendali, rentang nilai tukar rupiah dalam KEM PPKF 2027 masih masuk akal. Namun, jika rupiah bertahan di atas Rp17.500/US$ dalam waktu lama, asumsi ini akan cepat masuk zona rawan.

Risiko 

Dia berujar, risiko terbesar terhadap asumsi rupiah adalah harga minyak dan transaksi berjalan. BI sebelumnya memperkirakan defisit transaksi berjalan 2026 berada di kisaran 0,5 sampai 1,3% PDB, dan tekanan akan meningkat bila impor energi naik, ekspor melemah, serta arus portofolio keluar. 

Dalam KEM-PPKF 2027, lanjut dia, asumsi ICP yakni di kisaran US$70 sampai US$95 per barel sudah cukup lebar. Akan tetapi, bila konflik geopolitik mendorong harga minyak di atas US$95 lebih lama, maka tekanan ke rupiah, subsidi energi, inflasi, dan imbal hasil SBN akan membesar. 

“Karena itu, asumsi rupiah tidak bisa dipisahkan dari asumsi ICP dan imbal hasil SBN 10 tahun 6,5% sampai 7,3%. Jika minyak dan SBN sama-sama bergerak ke batas atas, maka rupiah juga cenderung bergerak ke batas atas atau bahkan melampauinya,” beber Josua. 

Sekadar catatan, pemerintah menetapkan target nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp16.800/US$ hingga Rp17.500/US$ dalam dokumen KEM-PPKF Tahun Anggaran 2027.

“Hal ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih berlanjut terutama yang disebabkan oleh peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah,” tulis dokumen KEM PPKF 2027.

Selain itu, tekanan aliran modal asing ke luar atau capital outflow yang dipicu oleh sentimen risk off investor global juga turut menekan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, kemungkinan berlanjutnya pelonggaran suku bunga global, surplus perdagangan, dan peningkatan iklim investasi akan memberikan peluang penguatan nilai tukar rupiah.

(lav)

No more pages