Logo Bloomberg Technoz

Adapun, pemerintah akan mulai mengatur ekspor satu pintu pada komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit (CPO) dan paduan besi (ferro alloy). 

Danantara belakangan membuka opsi untuk mengatur ekspor pada komoditas mineral logam lainnya mendatang. 

DSI nantinya akan melakukan pengawasan atas volume pengiriman, harga jual, hingga mekanisme pengiriman komoditas ke pasar global.

Tahap awal kebijakan mulai diterapkan pada 1 Juni 2026. Pada periode tersebut, eksportir wajib melaporkan seluruh transaksi ekspor komoditas SDA secara komprehensif kepada DSI.

Setelah itu, implementasi tahap II yakni dimulainya ekspor wajib melalui DSI rencananya dilakukan pada 1 September 2026. Nantinya, pemerintah bakal melakukan evaluasi dari kebijakan tersebut setiap tiga bulan para dua tahap tersebut.

BPI Danantara akan mulai memberlakukan transaksi ekspor komoditas SDA strategis melalui platform digital yang mulai aktif pada Januari 2027.

Laba Kuartal I 

AALI mencetak laba bersih Rp373,4 miliar pada kuartal I-2026. Torehan laba bersih itu naik 34,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp277,0 miliar.

Kendati demikian, torehan laba itu susut dibandingkan dengan periode kuartal IV-2025 sebesar Rp402 miliar. Mengutip riset Semesta Indovest Sekuritas (MG), profitabilitas AALI cenderung susut secara kuartalan.

Alasannya, menurut MG, gross profit kuartal I-2026 sebesar Rp1,16 triliun susut 15,1% dibandingkan kuartal IV-2025 yang berada di level Rp1,36 triliun.

Sementara laba operasional juga melemah 15,5% menjadi Rp725 miliar pada kuartal I-2026 dari kuartal sebelumnya Rp858 miliar.

Penurunan ini sejalan dengan koreksi margin yang mulai terjadi setelah mencapai level tinggi pada akhir 2025.

“Penurunan secara kuartalan mencerminkan tekanan volume yang tidak sepenuhnya terkompensasi oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP),” tulis MG lewat riset dikutip Jumat (29/5/2026).

Sementara itu, lanjut MG, pertumbuhan secara tahunan relatif ditopang basis rendah tahun sebelumnya dan kenaikan musiman ASP yang umumnya berlangsung pada kuartal pertama.

“Pertumbuhan YoY masih ditopang oleh basis rendah tahun sebelumnya dan kenaikan musiman ASP yang umumnya berlangsung pada kuartal pertama” tulis MG.

Margin laba kotor (gross profit margin/GPM) tercatat sebesar 15,5% pada kuartal I-2026, turun dari 20,9% pada kuartal IV-2025.

Sementara itu, margin laba operasional (OPM) kuartal I-2026 turun menjadi 9,7% dari kuartal sebelumnya sebesar 13,1%. Adapun, margin laba bersih susut ke level 5% dari kuartal sebelumnya 6,1%.

“Koreksi margin ini mengindikasikan bahwa peak profitability telah terlewati, seiring normalisasi harga CPO dan potensi tekanan biaya,” kata dia.

Meski demikian, margin masih menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya secara tahunan.

Di sisi lain, segmen minyak sawit mentah dan turunannya tetap menjadi penopang utama kinerja, dengan kontribusi pendapatan sebesar Rp6,73 triliun.

(red/naw)

No more pages