Harga emas berhasil bangkit usai jatuh dua hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga ambruk 2,48%.
Koreksi yang sudah lumayan dalam tersebut sepertinya membuat emas kembali menarik di mata pelaku pasar. Mumpung harga sudah ‘murah’, emas kembali diburu sehingga harganya terangkat.
Selain itu, situasi di Timur Tengah juga menjadi pengerek harga emas. Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan sudah mencapai perdamaian sementara, memperpanjang masa gencatan senjata hingga 60 hari ke depan.
Bloomberg News mengabarkan, naskah gencatan senjata itu sudah rampung dan tinggal menunggu restu dari Presiden AS Donald Trump. “Semua tergantung Bapak Presiden. Presiden Trump tidak akan membuat kesepakatan yang buruk bagi rakyat AS” tegas Menteri Keuangan Scott Bessent.
Kabar ini membuat harga minyak dunia turun. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup melemah 0,89% ke US$ 93,26/barel, terendah sejak 17 April atau lebih dari sebulan terakhir.
Apabila harga energi bisa lebih terkendali, maka ancaman inflasi bisa dihindari. Dengan begitu, bank sentral di berbagai negara akan punya ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
(aji)



























