“Investor memandang kebijakan-kebijakan pemerintah sebagai sesuatu yang negatif bagi dunia usaha,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut terlihat dari melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat pengumuman PT DSI, yang kemudian diikuti arus modal keluar atau capital outflow sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Menurut Huda, langkah Bank Indonesia yang telah menggelontorkan dana hingga US$10 miliar juga belum mampu menjinakkan penguatan dolar AS. Sementara itu, kebijakan pembatasan penukaran dolar AS dinilai hanya berdampak pada masyarakat domestik dan tidak dapat menahan investor asing keluar dari pasar Indonesia.
“Kenaikan BI rate pun mempunyai lag dan menunggu reaksi dari SBN untuk bisa membawa masuk dolar AS ke dalam negeri,” katanya.
Selain faktor moneter, Huda juga menyoroti belum kuatnya kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal pemerintah. Ia menyebut rencana efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat dipandang positif, namun munculnya bantahan dari Badan Gizi Nasional (BGN) justru memunculkan kebingungan di kalangan investor.
“Investor semakin bingung akan koordinasi kebijakan. Ini juga harus diperbaiki ke depan untuk mendapatkan kepercayaan investor,” ujar Huda.
Melansir data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh Rp17.892 per dolar AS pada perdagangan luar negeri pada pukul 23.59 WIB. Namun, mata uang Garuda ditutup di level Rp17.886 per dolar AS atau melemah 0,25%.
Sementara itu pada perdagangan Non-Deliverable Forward (NDF), Kamis (28/5/2026), rupiah dibuka stagnan sebelum bergerak menguat tipis 0,22% ke posisi Rp17.846 per dolar AS pada pukul 06.02 WIB.
Adapun pada penutupan perdagangan terakhir sebelum libur Iduladha, Selasa (26/5/2026), rupiah ditutup di level Rp17.789 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.
(ain)





























