Logo Bloomberg Technoz

“Ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak akibat tingginya geopolitik kemudian tingginya transportasi logistik ya membuat harga-harga di Amerika ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan terutama adalah gasoline,” kata Ibrahim.

Di sisi lain, tingginya inflasi di AS diprediksi membuat Bank Sentral AS atau The Fed mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir tahun ini.

“Indikasi ini yang membuat dolar kembali terjadi gap up ya, pembukaan pasar tadi jam 6 pagi dolar terjadi gap up kenaikan yang cukup signifikan,” ujar dia.

Sementara dari faktor domestik, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah bakal dipengaruhi kenaikan harga minyak, kebutuhan dolar tinggi, aksi pembayaran dividen, hingga aksi sejumlah masyarakat memindahkan tabungannya ke valuta asing (valas).

“Nah sedangkan Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi hanya di pasar internasional. Kekuatan Bank Indonesia untuk melakukan intervensi ini sudah sekuat mungkin, tetapi kita harus tahu bahwa kekuatan eksternal dan internal ini cukup besar ya wajar kalau seandainya rupiah mengalami pelemahan,” kata Ibrahim.

Pergerakan rupiah di luar negeri semakin liar, hampir menyentuh Rp17.900/US$ dalam sesi perdagangan tadi malam waktu Indonesia, kala pasar domestik libur memperingati Iduladha.

Melansir data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh Rp17.892/US$ pada sesi perdagangan di luar negeri, pada 23.59 WIB. Namun, berhasil ditutup di level Rp17.886/US$, melemah 0,25%.

Hari ini (28/5/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka stagnan, lalu bergerak sedikit menguat 0,22% ke posisi Rp17.846/US$ pada 06.02 WIB.

Mata uang kawasan Asia di pasar yang sudah buka cenderung beragam, meski pergerakannya belum terlalu terlihat. Yuan offshore menguat terbatas 0,03%, disusul yen Jepang 0,01%. Sebaliknya, dolar Singapura melemah tipis 0,01% pada 06.06 WIB.

Tak lama berselang, pergerakan mata uang Asia berubah dan berbalik arah pada 06.50 WIB. Yen Jepang sedikit melemah 0,02%, dan dolar Singapura menyusut 0,02%.

Mata uang Asia hari ini berbalik arah karena kenaikan harga minyak mentah kembali terjadi, setelah sempat turun kemarin (27/5) lebih dari 5%, ketika Amerika Serikat (AS) dan Iran masih belum mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara laporan menunjukkan adanya serangan militer baru di Iran.

Pagi ini, West Texas Intermediate (WTI) naik mendekati US$90 per barel, sedangkan Brent di kisaran US$94 per barel. Namun, harga minyak masih berada dalam tren penurunan karena pasar tetap optimis AS dan Iran setidaknya akan mencapai kesepakatan sementara, meski prosesnya penuh tantangan.

Di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik yang terjadi, tiap mata uang di kawasan Asia memiliki tingkat ketahanan dan volatilitas pergerakan yang berbeda. Jika membandingkan mata uang kawasan selama satu dekade ke belakang, rupiah merupakan satu-satunya mata uang yang paling volatil dan liar.

Dalam 10 tahun terakhir, rupiah di pasar spot bergerak dari Rp13.788/US$ pada akhir 2025, ke posisi Rp17.783/US$ pada sesi perdagangan Selasa (26/5/2026), pukul 10:30 WIB. Sehingga, selama satu dekade, mata uang Garuda terdepresiasi 28,98%, hampir 30%.

Terlihat pada grafik, pergerakan rupiah lebih liar daripada mata uang lainnya. Rupee India, misalnya, memang ikut melemah hampir setara dengan rupiah. Selama satu dekade, rupee tercatat melemah paling dalam sebesar 44,13%. Dari INR66.153/US$ pada akhir 2015 menjadi INR95.347/US$ pada Selasa (26/5).

Akan tetapi, pergerakan rupee terlihat lebih terkendali daripada rupiah. Pergerakan rupee yang tidak setajam rupiah karena memiliki penyangga. Bloomberg Survey memproyeksikan ekonomi India tumbuh 7,1% pada kuartal I-2026, dan pada kuartal II-2026 pertumbuhannya diperkirakan 6,4% akibat kenaikan harga minyak dunia.

Di sisi lain, India memiliki motor penggerak ekonomi dalam bentuk konsumsi domestik. Serta memiliki cadangan devisa yang besar, setidaknya mencapai US$728,5 atau setara 11,3 bulan impor. Cadangan sebesar itu memberi ruang intervensi yang jauh lebih besar dibanding Indonesia.

(azr/ros)

No more pages