Logo Bloomberg Technoz

Musim Panas Asia Ekstrem, Harga Gas Berisiko Melonjak

News
26 May 2026 17:40

Pipa gas alam cair (LNG). (Bloomberg)
Pipa gas alam cair (LNG). (Bloomberg)

Stephen Stapczynski, Mary Hui, dan Priscila Azevedo Rocha

Bloomberg, Saat pasar gas global bergulat dengan Selat Hormuz yang nyaris tertutup total selama hampir tiga bulan, para pedagang kini terpaku pada dua faktor tak terduga: China dan cuaca.

Prakiraan cuaca musim panas menunjukkan suhu lebih tinggi dari biasanya di seluruh Asia, sementara pola cuaca El Niño akan membuat suhu semakin panas lagi. Hal ini akan meningkatkan penggunaan pendingin ruangan dan membebani jaringan listrik saat harga energi sudah tinggi. Risiko utamanya, panas memicu permintaan yang lebih kuat di China, pembeli gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.


Konflik di Timur Tengah telah menghambat seperlima pasokan LNG global, tetapi hal itu belum menyebabkan lonjakan harga ekstrem seperti pada krisis energi sebelumnya.

Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan impor China pada Maret dan April, tetapi tanda-tanda pemulihan pembelian negara tersebut meningkatkan prospek persaingan global yang lebih sengit saat Eropa perlu mengisi kembali persediaan menjelang musim dingin.