Darto juga mengungkapkan banyak rampt atau tempat pembelian dan pengumpulan sawit memilih berhenti beroperasi sementara. Kondisi ini membuat tengkulak tidak berani membeli TBS petani dan distribusi buah sawit dari kebun terganggu.
Akibatnya, sejumlah truk pengangkut sawit ikut berhenti beroperasi dan buah sawit mulai menumpuk hingga membusuk di kebun.
“Yang paling terdampak tentu petani swadaya yang bergantung pada penjualan harian untuk kebutuhan hidup,” sebutnya.
Ia menilai banyak pelaku usaha menahan diri karena khawatir terhadap perubahan harga dan mekanisme pasar apabila PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) mulai terlibat dalam rantai perdagangan sawit nasional.
Menurut dia, pelaku usaha khawatir sudah membeli TBS petani dengan harga tertentu, namun ketika dijual kembali dalam bentuk crude palm oil (CPO), harga maupun skema perdagangannya berubah.
Selain petani, Darto mengatakan ratusan pabrik kelapa sawit yang tidak memiliki kebun sendiri juga berpotensi terdampak karena kesulitan menjual CPO ke refinery di tengah ketidakpastian pasar.
“Kalau kondisi ini terus terjadi, pabrik akan mengurangi atau menghentikan pembelian TBS. Petani swadaya kehilangan akses penjualan dan rantai ekonomi sawit daerah bisa lumpuh,” bebernya.
Darto memaparkan, produksi rata-rata petani swadaya mencapai sekitar 1.000 kilogram TBS per hektare per bulan dengan total luas kebun swadaya sekitar 6,4 juta hektare di Indonesia. Dengan asumsi tersebut, setiap penurunan harga Rp100 per kilogram berpotensi mengurangi pendapatan petani swadaya hingga Rp640 miliar per bulan.
"Uang itu adalah biaya beli beras, susu dan telur anak, biaya sekolah, biaya kesehatan keluarga, dan kebutuhan hidup sehari-hari yang langsung terasa dampaknya,” pungkasnya.
(ain)





























