Logo Bloomberg Technoz

Pada Kamis (21/5/2026), investor asing mendadak berbalik arah dengan melakukan net sell. Nilainya tak tanggung-tanggung, mencapai Rp544,85 miliar. Imbasnya, IHSG anjlok 3,54% ke level 6.094,94.

Net sell tersebut terjadi bertepatan dengan dipublikasikannya laporan S&P Global Ratings terkait risiko di balik pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia.

Pada hari terakhir perdagangan pekan ini, Jumat (22/5/2026), investor asing masih melakukan net sell. Nilainya mencapai Rp309,52 miliar.

Laporan S&P

Setidaknya, terdapat tiga risiko utama menurut S&P, jika ekspor SDA dilakukan terpusat melalui satu BUMN, Danantara Sumberdaya Indonesia. Berikut ketiga risiko tersebut, seperti dikutip dari keterangan resmi S&P, Minggu (24/5/2026).

Risiko Pelaksanaan

Implementasi ekspor sumber daya alam (SDA) satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia dinilai terlalu cepat. Hal ini menimbulkan potensi pelaksanaan yang buruk, sehingga berimbas pada risiko rusaknya metrik kredit negara.

S&P juga menilai, langkah negara untuk memusatkan ekspor komoditas utama mungkin sulit untuk diimplementasikan dengan cepat. 

Pengumuman kebijakan yang mendadak memiliki periode implementasi yang singkat, hanya sekitar tiga bulan, dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan pelaksanaan.

Tuai Kontroversi, Ini Alasan Danantara Tunjuk Luke Thomas Pimpin DSI. (Diolah dari Berbagai Sumber)

Risiko Penurunan Pendapatan Negara

Implementasi ekspor SDA satu pintu yang terkesan terburu-buru tersebut dapat menimbulkan gangguan perdagangan, yang mana saat ini sektor industri juga sudah menghadapi gangguan rantai pasok imbas perang
di Timur Tengah.

Belum lagi, pemerintah menjalankan sejumlah kebijakan untuk sektor komodtas, seperti perubahan kuota produksi, formula penetapan harga acuan, hingga royalti.

Kombinasi tersebut, ditambah faktor keberadaan Danantara Sumberdaya Indonesia, dapat memukul ekspor Indonesia yang berujung pada tertekannya pendapatan pemerintah dan neraca pembayaran negara.

Risiko Penurunan Peringkat

Faktor-faktor tersebut menciptakan ketidakpastian penurunan yang lebih besar terhadap peringkat S&P untuk Indonesia, yang saat ini berada di (BBB/Stable/A-2).

Langkah baru ini juga dapat merusak kepercayaan bisnis dan sentimen investor. Jika investor memandang pembuatan kebijakan negara sebagai sesuatu yang kurang dapat diprediksi, investasi dapat melambat, berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi, yang berujung pada meningkatnya arus modal asing.

(red)

No more pages