Logo Bloomberg Technoz

Di era keterbukaan informasi, media sosial memegang peran ganda: sebagai sarana edukasi sekaligus pemicu utama fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Perilaku pasar ritel yang kerap terjebak membeli saham di harga puncak akibat tergiur unggahan profit orang lain menjadi perhatian serius bagi Jess No Limit. "Saya menggunakan media sosial justru untuk mengukur tingkat hype suatu saham. Jika sebuah saham sudah ramai dibicarakan dan harganya sudah terlanjur tinggi, itu adalah sinyal bahaya," jelasnya.

Menurut Kevin, ekspektasi keliru untuk 'cepat kaya' tanpa disertai mitigasi risiko dan strategi pengelolaan modal yang terukur adalah penyebab utama tingginya rasio kerugian di tingkat investor ritel. Media sosial, idealnya, hanya digunakan untuk memperbarui berita dan memantau sentimen, bukan sebagai basis utama pengambilan keputusan eksekusi beli.

Pasar Saham: Lebih Rumit dari Arena Gaming

Jess No Limit Saat Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sebagai figur yang besar dari industri gaming, Jess No Limit memberikan analogi menarik mengenai tingkat kesulitan di pasar saham. Baginya, menganalisis instrumen investasi jauh lebih menantang dibandingkan memenangkan kompetisi permainan digital.
"Belajar saham atau investasi itu jauh lebih sulit daripada bermain game. Di pasar modal, lawan kita sangat kuat. Mereka memiliki pengalaman tahunan, modal raksasa, hingga algoritma canggih," tutur Jess.

Meski demikian, Jess dan Kevin sepakat kesadaran akan pentingnya menyiapkan dana pensiun membuat proses belajar ini mutlak dilakukan secara serius agar modal tidak tergerus sia-sia. Faktor gaya hidup (lifestyle) juga memegang peran penting; manajemen pengeluaran yang ketat di awal akan menentukan seberapa besar kapasitas modal yang bisa dialokasikan ke dalam instrumen produktif.

(naw/tim)

No more pages