“Worst case kalian butuh uang, kalian tinggal jual GOTO di harga Rp50, kalian tidak rugi paling kalian cuma rugi di fee doang,” tuturnya.
Di sisi lain, dia menambahkan, aturan pembagian komisi 8% itu tidak berdampak pada seluruh segmen operasi GOTO.
Menurut informasi yang dia pelajari dari pemberitaan media, pembagian komisi 8% hanya berlaku pada segmen ride hailing atau jasa pengantaran orang.
“Untuk yang GoFood, yang lain pengantaran barang sama sebenarnya, pengusaha itu tetap lihai ya,” tuturnya.
Sebelumnya, manajemen GOTO memastikan akan mematuhi kebijakan pemerintah yang mengatur pembagian komisi menjadi 8% untuk aplikator dan 92% untuk pengemudi online.
"Untuk implementasinya kita akan melakukannya secepat mungkin, akan tetapi juga lagi menunggu instruksi dan juga persiapan dari perpresnya sendiri," ujar Direktur Utama GOTO Hans Patuwo dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Hans mengatakan, untuk memastikan pendapatan stabil, perusahaan berencana untuk menghentikan program langganan GoRide Hemat untuk mitra pengemudi. Program tersebut sebelumnya telah mulai diuji coba sejak November 2025 lalu.
Penghapusan program langganan GoRide Hemat untuk mitra pengemudi itu, kata dia, dilakukan guna menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi seluruh pihak.
Meski demikian, Hans menilai dampaknya terhadap kinerja perseroan pada kuartal II 2026 masih terbatas. Pasalnya, implementasi kebijakan tersebut kemungkinan belum berjalan penuh dalam waktu dekat.
Perusahaan, kata dia, akan terus mengkaji soal dampak lanjutan yang akan terjadi hingga beberapa pekan ke depan. GOTO juga memiliki lini bisnis lain yang diharapkan dapat menopang kinerja.
Buyback Rp3,5 Triliun
Belakangan GOTO berencana melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan menyiapkan dana sebanyak-banyaknya Rp3,5 triliun.
Perseroan akan meminta persetujuan pelaksanaan aksi korporasi ini dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Juni 2026 mendatang.
Manajemen GOTO menyampaikan bahwa pembelian kembali saham perseroan bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam mengelola modal, termasuk optimalisasi struktur modal.
“Pembelian kembali saham juga diharapkan dapat mendukung potensi pengembalian nilai yang lebih baik bagi pemegang saham di masa depan,” kata manajemen GOTO dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Senin (11/5/2026).
Dalam aksi korporasi ini, perkiraan jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 10% persen dari modal ditempatkan dan disetor, termasuk saham treasuri yang telah dimiliki saat ini.
Per 30 April 2026, jumlah saham treasuri perseroan mencapai 39,29 miliar saham atau setara 3,3% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor perseroan.
GOTO mencetak laba bersih pertama kali dalam sejarah sebesar Rp171 miliar pada kuartal I-2026.
Kinerja ini membalikkan kondisi rugi GOTO pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp367 miliar.
GOTO melaporkan pendapatan bersih Rp5,3 triliun per Maret 2026, tumbuh 26% secara year-on-year dari Rp4,2 triliun per Maret 2025.
Peningkatan pendapatan yang signifikan tersebut disebabkan oleh pertumbuhan pendapatan di seluruh segmen mulai dari jasa pengiriman, imbalan jasa, pendapatan, imbalan jasa e-commerce, imbalan iklan dan lain-lain.
(naw/tim)

























