Otoritas kesehatan memperingatkan bahwa konflik keamanan, mobilitas penduduk, dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah memperumit upaya pelacakan infeksi dan isolasi pasien.
Komite darurat WHO menyebut epidemi tersebut berkembang di “salah satu lingkungan operasional paling menantang yang mungkin terjadi.”
Ketegangan sosial mulai muncul seiring penerapan langkah pengendalian wabah. Kerabat seorang pasien yang meninggal di Rumah Sakit Rwampara dekat Bunia, ibu kota Provinsi Ituri tempat wabah pertama kali terdeteksi, bentrok dengan petugas kesehatan setelah otoritas menolak menyerahkan jenazah karena risiko penularan.
Menurut laporan media lokal, tenda perawatan Ebola milik organisasi bantuan Alima dibakar saat kerusuhan terjadi. Enam pasien dilaporkan melarikan diri dari fasilitas tersebut, termasuk tiga pasien positif Ebola.
Wabah kali ini dipicu oleh strain Bundibugyo, varian Ebola langka yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi antibodi yang disetujui. Virus tersebut diyakini telah beredar selama berbulan-bulan di Provinsi Ituri sebelum akhirnya berhasil diidentifikasi otoritas kesehatan.
Keterbatasan Pengujian
Petugas kesehatan kini berupaya melacak ribuan orang yang kemungkinan terpapar, seiring penyebaran infeksi dari kawasan tambang terpencil hingga pusat perkotaan seperti Bunia dan Goma, yang masing-masing memiliki populasi mendekati 700 ribu dan 860 ribu penduduk.
WHO menyatakan lebih dari 11 ton pasokan darurat, termasuk alat pelindung diri, perlengkapan perawatan, dan peralatan pemakaman aman, telah diterbangkan ke Bunia.
Data terbaru kementerian menunjukkan penyebaran infeksi mulai meluas keluar dari Mongbwalu, kawasan tambang emas yang sebelumnya dianggap sebagai episentrum wabah. Meski Mongbwalu masih menjadi klaster suspek terbesar, kasus terkonfirmasi kini semakin terkonsentrasi di zona kesehatan sekitar seperti Rwampara dan Bunia.
Nyankunde, yang memiliki rumah sakit rujukan utama bagi sekitar 200 ribu penduduk, juga berkembang menjadi klaster baru dengan 11 kasus terkonfirmasi dan 340 kontak erat dalam pemantauan.
WHO memperingatkan lemahnya sistem pengawasan dan kapasitas laboratorium menghambat respons wabah. Platform diagnostik GeneXpert yang banyak digunakan pada epidemi Ebola sebelumnya disebut tidak mampu mendeteksi strain Bundibugyo.
Sementara itu, organisasi bantuan medis Médecins Sans Frontières menyatakan pasokan alat PCR khusus untuk strain tersebut masih sangat terbatas.
WHO mendesak negara-negara untuk memperluas kapasitas pengujian laboratorium, pelacakan kontak, dan edukasi masyarakat, sambil membuka “koridor keamanan” agar petugas kesehatan dapat menjangkau wilayah terdampak secara aman.
Pemerintah Kongo melaporkan positivity rate hampir mencapai 46%, mengindikasikan kemungkinan masih banyak kasus yang belum terdeteksi.
Ancaman Regional
Wabah berlangsung di salah satu kawasan paling tidak stabil di dunia, di mana kelompok bersenjata menguasai sebagian wilayah, infrastruktur jalan minim, dan jutaan orang bergerak antara kamp tambang, kota, dan negara tetangga.
Aliansi yang mencakup kelompok pemberontak M23 dukungan Rwanda bahkan mengumumkan struktur respons Ebola sendiri di wilayah yang mereka kuasai, serta meminta masyarakat bekerja sama dengan petugas kesehatan dan tidak mempolitisasi wabah.
WHO menilai risiko penyebaran di dalam Kongo kini berada pada level “sangat tinggi”, sementara negara-negara tetangga menghadapi ancaman regional “tinggi”.
Uganda telah memperketat pengawasan perbatasan dan menghentikan sementara layanan transportasi penumpang dengan Kongo. Rwanda juga memperketat pemeriksaan kesehatan dan menyatakan sebagian besar pelancong asing yang baru mengunjungi Kongo akan ditolak masuk, sementara warga yang kembali diwajibkan menjalani karantina.
Risiko terhadap masyarakat umum di Uni Eropa dinilai “sangat rendah”, meski otoritas kesehatan kawasan mulai mengoordinasikan kesiapan laboratorium dan panduan perjalanan melalui Health Security Committee.
Amerika Serikat mengambil langkah lebih ketat dengan sementara waktu melarang sebagian pemegang green card yang baru mengunjungi wilayah terdampak untuk kembali masuk ke negara tersebut.
Wabah ini sekaligus memunculkan kekhawatiran terhadap rapuhnya sistem respons wabah global setelah bertahun-tahun pemangkasan bantuan internasional dan perubahan prioritas politik.
“Kami masih tertinggal, situasinya belum terkendali,” ujar perwakilan WHO di Kongo, Anne Ancia, pekan ini.
(bbn)





























