Namun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov membantah adanya tenggat waktu yang ditetapkan oleh Putin tersebut.
Di sisi lain, Ukraina mengumumkan penguatan keamanan besar-besaran di wilayah utara negara itu pada hari Kamis (21/5). Langkah ini diambil setelah Presiden Volodymyr Zelenskyy memperingatkan adanya risiko potensi serangan Rusia dari wilayah Bryansk dan Belarus, berkaca pada kegagalan upaya merebut Kyiv di minggu-minggu pertama invasi penuh.
Meskipun Ukraina bersiap menghadapi tekanan tambahan Rusia pada musim panas ini—dan memperingatkan bahwa Kremlin bisa saja melakukan mobilisasi wajib militer gelombang kedua—pasukan Kyiv sebagian besar berhasil mempertahankan garis pertahanan sejak pertempuran kembali meningkat setelah jeda musim dingin. Berdasarkan data dari DeepState, sebuah layanan pemetaan konflik yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Ukraina, mereka telah menstabilkan sebagian besar garis depan perpanjangan pertempuran pada pertengahan Mei.
Presiden Finlandia Alexander Stubb bulan lalu menyatakan bahwa Kyiv juga berhasil memperbaiki rasio korban jiwa menjadi sekitar satu tentara Ukraina untuk setiap lima tentara Rusia. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperkuat penilaian tersebut dalam wawancara dengan Fox News pada 13 Mei, dengan menyebut bahwa Ukraina kini memiliki "angkatan bersenjata paling kuat" di Eropa.
Pengerahan drone dalam jumlah besar oleh Ukraina terbukti menjadi pengubah permainan, membantu mengatasi kelemahan jumlah personel yang membayangi Kyiv sejak invasi penuh Rusia dimulai lebih dari empat tahun lalu.
Kendati demikian, Kyiv sejauh ini juga belum berhasil mencapai tujuan strategisnya. Mereka belum mampu merebut kembali sebagian besar wilayah yang diduduki Rusia, ataupun mendekati kesepakatan damai yang dapat diterima dalam negosiasi pimpinan AS yang saat ini masih mandek.
Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov menyatakan kepada wartawan awal pekan ini bahwa Ukraina telah secara signifikan "memperlambat kemajuan musuh dan secara bertahap merebut kembali inisiatif pertempuran." Sekitar 35.203 tentara Rusia tewas atau luka parah pada bulan April, dan targetnya adalah "menimbulkan setidaknya 200 kerugian musuh untuk setiap kilometer persegi kemajuan mereka," ujarnya.
Angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Menhan sebelumnya sempat mengatakan bahwa kehilangan 50.000 personel Rusia per bulan akan membuat perang menjadi tidak berkelanjutan bagi Moskow.
"Bersama dengan Presiden dan tim diplomatik, kami menjelaskan kepada mitra kami bahwa Ukraina sedang menyelesaikan pekerjaan rumahnya," kata Fedorov kepada Bloomberg News. "Yang penting sekarang adalah para mitra melakukan bagian mereka dan membantu memperbesar apa yang sudah terbukti efektif saat ini."
Akhir pekan lalu, Kyiv meluncurkan salah satu serangan udara terberatnya ke Moskow dan wilayah sekitarnya sejak awal perang. Hal ini membuat banyak warga Rusia kini secara langsung menyalahkan Putin karena membawa konflik masuk ke wilayah mereka sendiri.
Rusia sendiri terpantau terus melakukan serangan drone dan rudal masif untuk meruntuhkan moral Ukraina. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa jumlah kematian warga sipil melonjak bulan lalu ke level tertinggi sejak Juli 2025.
Beberapa diplomat Eropa yang berbicara dengan syarat anonim menilai suasana di Rusia saat ini cenderung muram akibat medan perang yang menemui jalan buntu, ditambah serangan drone Kyiv yang mulai mencapai Moskow.
Meski begitu, rasa percaya diri Ukraina di medan perang juga dihadapkan pada tantangan domestik yang meningkat. Populasi yang mulai lelah dengan perang membuat warga semakin enggan bergabung dengan tentara, dan kebijakan wajib militer yang lebih luas juga sangat tidak populer.
Menyikapi hal tersebut, Fedorov sedang mempersiapkan reformasi untuk meningkatkan gaji prajurit—terutama pasukan infanteri yang sangat dibutuhkan—guna menarik rekrutan baru, serta meningkatkan efisiensi pengerahan pasukan dan memperluas penggunaan drone.
Di sisi pertahanan udara, meskipun Ukraina semakin mahir mencegat drone, mereka masih kesulitan menghadapi rudal balistik yang sempat melumpuhkan infrastruktur energi mereka selama musim dingin lalu. Kyiv berulang kali mengeluhkan meningkatnya kesulitan dalam mengamankan pasokan amunisi untuk sistem rudal Patriot buatan AS, yang terbukti menjadi satu-satunya senjata efektif melawan rudal balistik.
"Rusia menghadapi kemunduran di medan perang," kata Nigel Gould-Davies, pengamat senior untuk Rusia dan Eurasia di International Institute for Strategic Studies di London. "Untuk mempertahankan upaya perangnya di Ukraina, Kremlin hampir dipastikan harus menerapkan mobilisasi parsial kedua" dalam waktu 12 bulan ke depan, pungkasnya.
(bbn)






























