Logo Bloomberg Technoz

“Saya kira itu yang membuat kualitas nilai tukar tidak mudah untuk kembali di bawah Rp17.000. Menurut saya nilai keseimbangan barunya di atas sedikit ke Rp17.000 lah,” sebutnya.

Dampak Ke Pertumbuhan Kredit

Tauhid juga menyoroti dampak kenaikan BI Rate terhadap kredit yang kemungkinan akan dinaikkan oleh perbankan dalam waktu dekat.

 “Ya pasti suku bunga bank at least langsung respon cepat. Nurunin sulit tapi kalau naikin bank cepat. 50 basis poin oleh BI bisa jadi lebih tinggi. Karena cost of fundnya kan naik cukup besar. Sehingga bank akan menaikkan suku bunga,” katanya.

Hal ini juga menurutnya akan mempengaruhi pertumbuhan kredit perbankan yang saat ini sudah mencatatkan kenaikan sekitar 10%. Menurutnya dengan naiknya BI Rate ini pertumbuhan kredit bisa saja turun di angka 8%.

“Artinya ini dibayar mahal dengan potensi penurunan pertumbuhan dengan stabilisasi rupiah. Tapi itulah konsekuensi dari posisi stabilisasi,” katanya.

Sementara itu, terkait langkah-langkah BI untuk mengerek pertumbuhan  dengan menjaga likuiditas moneter tetap longgar, meningkatkan insentif likuiditas makroprudensial kepada sektor-sektor strategis dan memperluas cakupan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dinilai hanya tak akan memberikan dampak signifikan.

“Sebenarnya yang lain itu pengaruh. Tetapi efektifitasnya masih lebih kecil dibandingkan katakanlah suku bunga BI rate itu sendiri. Jadi walaupun ada intermediasi macam-macam yang lain itu tetap menurut saya faktor suku bunga BI rate yang paling pengaruh,” katanya.

Sulit Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

Tak cuma pertumbuhan kredit, menurut Tauhid pertumbuhan ekonomi niscaya akan sulit untuk bertumbuh, dengan semakin tingginya suku bunga BI, alih-alih mencapai target.

“Menurut saya kalau [mencapai target] 5,4% rasanya berat ya. Agak berat karena saya kira momentumnya sudah hilang,” katanya.

Menurutnya pertumbuhan ekonomi tertinggi biasanya berada di kuartal pertama terutama karena faktor momentum dan faktor ekspansi fiskal. Sementara saat ini, pertumbuhan nampaknya hanya akan bergantung pada ekspansi program pemerintah gitu ya.

Oleh karenanya, menurut Tauhid, pemerintah perlu meyakinkan investor bahwa defisit fiskal masih bisa terjaga dengan batas psikologis yang tak boleh mencapai 3%.

“Jangan sampai mendekati 2,9% atau tidak ya. Batas amannya 2,4% maksimal 2,5%. Nah itu harus dijaga tiap bulannya begitu ya normal. Kemarin kan mendekati 0,8%, 0,9% ya mendekati 1 padahal baru 3 bulan ya. Alhamdulillah kemarin turun lagi ya karena pajak naik,” kata Tauhid.

Namun di bulan mendatang, penerimaan pajak akan semakin sedikit seiring dengan telah selesainya masa pelaporan pajak.

“Saya kira sisi fiskalnya itu defisitnya tetap konsisten di bawah 2,5%. Upaya peningkatan penerimaan negara juga konsisten begitu ya. Plus belanja harus dikendalikan,” katanya.

(ell)

No more pages