Logo Bloomberg Technoz

Saham barang baku yang menjadi pemberat IHSG sepanjang perdagangan hari ini adalah saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) drop 14,7%. Selain itu pelemahan juga terjadi pada saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 10,1% point–to–point.

Senada saham energi turut menjadi pemberat, saham PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) jatuh 14,5%, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 9,22%. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) drop 4,71%.

Turut senasib dengan saham–saham LQ45 yang juga tercatat melemah harganya, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terjun bebas 6,99%, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terpeleset 6,31%, dan saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) tertekan 6,21%.

Senada, tren negatif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat pelemahan 6%, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melemah 4,65%. Juga saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) drop 4,29%.

Adapun Bursa Saham Asia turut terpeleset di zona merah sepanjang perdagangan hari ini. KOSDAQ (Korea Selatan), TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Jepang), KOSPI (Korea Selatan), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), Straits Times (Singapura), TAIEX (Taiwan), Shenzhen Comp. (China), Shanghai Composite (China), PSEi (Filipina), dan CSI 300 (China) yang masing–masing melemah 2,61%, 1,53%, 1,23%, 0,86%, 0,57%, 0,55%, 0,54%, 0,39%, 0,28%, 18%, 0,06%, dan 0,04%.

Bank Indonesia Kerek Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Mei. Satu yang ditunggu pengumuman suku bunga acuan BI Rate.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Mei 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 6%.

Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre–emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah. 

Keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter pada stabilitas (pro–stability) untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak gejolak global.

Hasil ini melebihi ekspektasi pasar. Konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi BI Rate naik 25 basis poin di level 5%.

Yang jadi perhatian, fokus utama kini sepertinya mulai bergeser dari stimulus pertumbuhan menuju menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing.

Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, menjadi satu–satunya ekonom yang memproyeksikan BI Rate naik 50 bps menjadi 5,25%. 

Fulvian menilai kondisi saat ini bukan lagi semata-mata persoalan harga minyak atau arah suku bunga The Fed, melainkan mulai menyentuh persoalan yang lebih fundamental, yaitu kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia. 

“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank Sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri. Ketika pasar mulai mempertanyakan di mana terminal level rupiah, di mana inflation anchor, dan bagaimana koordinasi fiskal-moneter akan berjalan, maka biaya stabilisasi ke depan bisa menjadi jauh lebih mahal,” papar Fulvian.

Mengenai arah atau posisi ke depan, Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen BI, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik. 

Melansir riset Phintraco Sekuritas, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 bps ke level 5,25% pada RDG Mei 2026, di atas ekspektasi yang sebesar 5%. 

Hal tersebut berhasil mendorong penguatan rupiah sebesar 0,56% di level Rp17.605/US$, berdasarkan data Bloomberg data rupiah di pasar spot. Secara teknikal, Stochastic RSI berada di area oversold dan berpotensi membentuk golden cross. 

“Namun pelebaran histogram negatif MACD masih berlanjut. Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak variatif pada kisaran support 6.200–6.250 dan resistance pada 6.400–6.450,” terang Phintraco, Rabu.

(fad)

No more pages