Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan hasil kunjungan tim PT Pertamina (Persero) ke AS beberapa waktu lalu, yang dilakukan untuk mengamankan kontrak pembelian komoditas migas dari negara itu.
Bahlil menyatakan sudah mendapatkan laporan kunjungan tersebut dari Pertamina dan sudah terdapat beberapa perusahaan yang masuk dalam daftar potensi untuk dilakukan pembelian migas.
Meskipun belum memerinci daftar perusahaannya, Bahlil menyatakan Indonesia akan membeli komoditas migas dari perusahaan yang dapat menawarkan harga terbaik.
“Jadi laporannya sudah masuk, dan semuanya kita cari mana yang lebih efisien. Hukum permintaan dan penawaran. Ada produk, ada market. Saya harus mencari banyak produk, kan. Habis itu kita lihat mana harga yang paling efisien,” kata Bahlil kepada awak media, di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
“Harga yang efisien kita ambil. Supaya apa? Harga di dalam negeri kompetitif,” tegas dia.
Dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dirilis Gedung Putih pada 19 Februari 2026, Indonesia diwajibkan mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai US$3,5 miliar atau setara Rp59,13 triliun.
Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor minyak mentah dari Negeri Paman Sam dengan nilai US$4,5 miliar atau setara Rp76,02 triliun.
Terakhir, Indonesia juga harus mengimpor bahan bakar minyak (BBM) atau bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.
“Indonesia akan memfasilitasi, dengan memberikan semua persetujuan pemerintah, keputusan, dan izin yang diperlukan kepada entitas milik negara dan sektor swasta, peningkatan pembelian energi AS,” tulis Gedung Putih.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan pelemahan hari ini, Senin (18/5/2026), dan tergerus 0,6% pada pembukaan perdagangan ke Rp17.570/US$.
Tak lama berselang, rupiah melanjutkan pelemahannya 0,83% ke posisi Rp17.610/US$ yang merupakan posisi terlemah sepanjang sejarah.
Sejumlah sentimen menekan rupiah pada perdagangan pagi ini setelah libur panjang pekan lalu. Pertama, dari sisi eksternal pergerakan harga minyak terus melambung ke US$111,24/barel kembali menekan mata uang kawasan.
Kenaikan harga minyak terjadi lantaran Presiden AS Donald Trump kembali menekan Iran untuk mencapai kesepakatan.
Kedua, kondisi data perekonomian domestik yang dipaparkan otoritas menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar. Capaian pertumbuhan di level 5,61% belum diikuti dengan pergerakan positif sejumlah data acuan seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan data penjualan ritel (IPR).
Pasar juga mulai melihat adanya potensi tekanan ganda terhadap APBN dalam bentuk subsidi energi yang diproyeksikan membengkak, sementara penerimaan negara belum cukup kuat untuk menopang ekspansi belanja yang agresif.
Ketidakpastian tersebut pada akhirnya tercermin ke dalam pergerakan pasar keuangan domestik. Investor terlihat mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia, baik di pasar obligasi maupun nilai tukar, seiring adanya kekhawatiran tersebut.
Adapun, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi keputusan pemerintah menahan harga Pertamax sebesar Rp12.300/liter dan harga Pertalite Rp10.000/liter bakal membebani keuangan negara sekitar Rp200 triliun–Rp215 triliun hingga akhir tahun.
Terlebih, jika harga minyak dan nilai tukar rupiah terhadap greenback masih berada di level saat ini.
Josua memprediksi kebijakan tersebut bakal memberikan beban ganda pada APBN dan keuangan Pertamina. Apalagi, jika kompensasi dibayar cepat dan rutin, APBN menanggung langsung beban belanja yang besar.
Sementara itu, jika pembayaran ditunda, beban akan berpindah ke arus kas Pertamina dalam bentuk pitunang kompensasi, yang pada akhirnya tetap menjadi kewajiban pemerintah.
“Dalam kondisi rupiah lemah, harga minyak tinggi, dan kebutuhan pembiayaan APBN meningkat, penundaan kompensasi dapat menekan neraca Pertamina, sementara pembayaran kompensasi yang terlalu besar dapat mempersempit ruang belanja pemerintah untuk program produktif,” kata Josua ketika dihubungi, Senin (18/5/2026).
(azr/wdh)

























