Di samping itu saham–saham yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang amblas 14,9%, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang jatuh 14,8%, dan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang drop 14,8%.
Bursa Saham Asia turut terjerembab di zona merah. Index KOSDAQ (Korea Selatan), Hang Seng (Hong Kong), CSI 300 (China), Topix (Jepang), NIKKEI 225 (Tokyo), TW Weighted Index (Taiwan), PSEi (Filipina), SENSEX (India), Shanghai Composite (China), Shenzhen Comp. (China), Straits Times (Singapura), KLCI (Malaysia), dan Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), yang terpeleset masing–masing 1,54%, 1,49%, 1,01%, 0,82%, 0,8%, 0,68%, 0,62%, 0,5%, 0,49%, 0,49%, 0,41%, 0,38%, dan 0,11%.
Jadi, IHSG adalah indeks dengan pelemahan paling buruk nomor satu di Asia, dan juga di ASEAN.
Penyebab IHSG Melemah
IHSG sejatinya mengalami lag effect dari libur panjang nasional memperingati Kenaikan Yesus Kristus, dengan kecenderungan tertekan. Menyusul performa Bursa Asia yang sudah turun selama pasar Indonesia tutup, terlebih mayoritas bursa di global juga mengalami nasib serupa.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, menguatnya dolar AS dan jatuhnya harga obligasi menjadi sorotan setelah data inflasi terbaru menunjukkan dampak nyata dari gangguan energi akibat perang di Iran.
Inflasi AS tercatat meningkat pada data bulan April didorong oleh kenaikan biaya bensin dan kebutuhan pokok, yang pertumbuhannya melampaui kenaikan upah, sebuah tekanan ganda bagi konsumen yang sudah tertekan. IHK melejit 3,8% dibanding tahun sebelumnya, angka tertinggi sejak 2023. Sedang IHK inti, yang mengecualikan komponen makanan dan energi, meningkat 2,8%.
“Inflasi kembali melonjak—sebagian besar didorong oleh harga minyak yang tetap tinggi—dan ini akan mendominasi narasi inflasi di sisa tahun ini seiring konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut,” kata Skyler Weinand dari Regan Capital.
Kekhawatiran inflasi yang muncul memicu peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah, seiring dengan langkah pelaku pasar yang meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) pada tahun 2027.
Harga minyak mentah dunia kembali mencatat kenaikan untuk hari ketiga berturut–turut. Lonjakan ini dipicu oleh posisi AS dan Iran yang masih belum menemukan titik temu dalam kesepakatan damai untuk menyudahi perang dan membuka kembali Selat Hormuz yang vital.
Minyak mentah jenis Brent merangkak melonjak di atas US$111,42 per barel, setelah melejit 5% lebih. Sementara itu, jenis West Texas Intermediate (WTI) ikut melesat menembus US$107,8.
Ketidakjelasan mengenai progres negosiasi menjadi faktor utama yang mendongkrak harga minyak pekan lalu. KTT dua hari antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping di Beijing juga tidak membuahkan langkah riil apa pun untuk membuka kembali Selat Hormuz, sehingga arus pengiriman komoditas lewat jalur air kritis tersebut tetap tersendat.
Terlebih lagi, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melanjutkan tren pelemahan hingga siang hari ini, Senin (18/5/2026), tergerus 1,15% pada menembus Rp17.665/US$ yang merupakan posisi terlemah sepanjang sejarah.
Kondisi data perekonomian Indonesia yang dipaparkan otoritas menimbulkan kecemasan tersendiri. Capaian pertumbuhan di level 5,61% belum diikuti dengan pergerakan positif dari sejumlah data acuan seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan data penjualan ritel (IPR).
Pasar juga mulai melihat adanya potensi tekanan ganda terhadap APBN dalam bentuk subsidi energi yang diproyeksikan membengkak, sementara penerimaan negara belum cukup kuat untuk menopang ekspansi belanja yang agresif.
Ketidakpastian tersebut membuat investor mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia, baik di pasar obligasi maupun nilai tukar, seiring adanya kekhawatiran tersebut.
Di tengah tekanan tersebut, perhatian pasar masih tertuju pada langkah Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) pekan ini.
Konsensus Bloomberg sejauh ini mulai memperkirakan Bank Indonesia (BI) bakal menaikkan suku bunga acuan 5% dalam pertemuan Mei. Lonjakan harga minyak dinilai cukup kuat jadi alasan.
Jika harga minyak bertahan tinggi lebih lama dan dorongan pertumbuhan permintaan mulai memicu tekanan inflasi yang lebih besar, seiringan dengan pelemahan rupiah yang semakin cepat memunculkan spekulasi BI perlu memberikan respons yang lebih tegas melalui kenaikan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam keluarnya arus modal asing.
(fad)



























