Logo Bloomberg Technoz

Situasi di Timur Tengah masih menjadi sorotan utama pelaku pasar. Amerika Serikat (AS) dan Iran masih belum kunjung sepakat untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

“Bagi Iran, waktu terus berjalan. Mereka sebaiknya bergerak CEPAT atau tidak ada yang tersisa bagi mereka. WAKTU ADALAH KUNCI,” cuit Trump melalui unggahan di media sosial.

Alhasil, harga minyak dunia masih membumbung tinggi. Pada pukul 07:51 WIB, harga minyak jenis brent naik 1,52% ke US$ 110,91/barel. Dalam sebulan terakhir, harga melambung lebih dari 16%.

Harga minyak yang terus meninggi membuat dunia terancam risiko inflasi. Ketika inflasi makin ‘liar’ dan tidak terkendali, maka akan sulit buat bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.

“Kita dalam posisi shock terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga. Jika terjadi, maka akan menambah ketidakpastian di pasar,” kata Kyle Rodda, Analis Senior Capital.com yang berbasis di Melbourne (Australia), seperti dikutip dari Bloomberg News.

(aji)

No more pages