Saham-saham AS saat ini bertahan di dekat rekor tertinggi meskipun ada kekhawatiran yang berkembang bahwa perang di Iran akan menjaga inflasi tetap tinggi dan membebani ekonomi global. Investor mencoba menyeimbangkan tekanan harga yang muncul kembali dengan laporan laba perusahaan yang kuat, serta optimisme bahwa belanja terkait kecerdasan buatan (AI) akan terus menopang pertumbuhan ekonomi dan mendorong penguatan saham.
Di sisi diplomasi, Donald Trump telah tiba di Beijing untuk kunjungan kenegaraan pertama pemimpin AS ke China dalam sembilan tahun terakhir. Dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini berupaya menstabilkan hubungan melalui pertemuan puncak yang berlangsung di tengah bayang-bayang perang Iran. Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat pada Kamis pagi.
Di sisi lain, laporan inflasi AS yang dirilis berturut-turut minggu ini menunjukkan tekanan harga yang meningkat. Hal ini mendorong para trader untuk memperbesar taruhan pada kenaikan suku bunga Federal Reserve di tahun mendatang. Imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun pun melonjak ke level tertinggi sejak Juli.
Inflasi grosir AS pada bulan April mengalami percepatan tercepat sejak 2022 akibat kenaikan harga energi yang dipicu perang, yang kemudian berdampak pada tingginya biaya transportasi logistik. Indeks harga produsen (IHP) naik 6% dari tahun lalu, melampaui estimasi para ekonom.
“Satu hal yang bisa ditarik adalah perusahaan belum sepenuhnya membebankan kenaikan biaya kepada konsumen secara menyeluruh saat ini,” catat Chris Low dari FHN Financial. “Namun, biaya input perusahaan naik tajam, yang jelas meningkatkan tekanan untuk menaikkan harga di masa depan.”
Secara terpisah, Senat AS dengan selisih tipis mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai gubernur The Fed, membuka jalan bagi transisi kepemimpinan paling kontroversial di bank sentral AS dalam beberapa dekade terakhir sekaligus menjadi ujian terhadap independensi politik lembaga tersebut.
Laba kuartal pertama perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 sejauh ini melonjak 27%, lebih dari dua kali lipat perkiraan analis yang berada di kisaran 12%. Ini menjadi pertumbuhan laba tahunan tercepat di luar periode pemulihan dari guncangan besar sejak 2004.
Reli bullish saham AS diperkirakan masih dapat berlanjut apabila pemulihan laba perusahaan dan posisi investor yang masih relatif rendah mampu mengimbangi ancaman dari kenaikan imbal hasil obligasi, kata Max Kettner dari HSBC Holdings Plc.
Strategis Morgan Stanley juga semakin optimistis terhadap saham AS dengan keyakinan bahwa laba perusahaan dan kuatnya ekonomi akan menjaga pasar bullish tetap berlangsung. Tim yang dipimpin Mike Wilson memperkirakan S&P 500 dapat mencapai level 8.300 dalam 12 bulan ke depan. Saat ini indeks tersebut diperdagangkan di sekitar level 7.444.
“Ketahanan data laba perusahaan di tengah risiko geopolitik, kekhawatiran kredit swasta, dan disrupsi AI mendukung pandangan kami,” kata Wilson.
(bbn)





























