Logo Bloomberg Technoz

Tercatat hanya ada penguatan 239 saham, dan sebanyak–banyaknya 416 saham terjadi pelemahan. Sisanya 163 saham stagnan.

Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG pada perdagangan hari ini, pelemahan saham BBRI, TPIA hingga AMMN. Adapun saham barang baku, saham infrastruktur, dan saham energi melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 4,42%, 2,71% dan juga 1,61%.

Saham–saham big caps yang menjadi pemberat IHSG di jajaran top losers:

  1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 15,75 poin
  2. Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 15,58 poin
  3. Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 15,2 poin
  4. Ekamas Mora Republik (MORA) mengurangi 13,96 poin
  5. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 11,52 poin
  6. Barito Pacific (BRPT) mengurangi 11,3 poin
  7. Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 11,29 poin
  8. Astra International (ASII) mengurangi 4 poin
  9. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mengurangi 3,81 poin
  10. Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 3,69 poin

Sentimen rilisnya pengumuman hasil rebalancing MSCI periode Mei 2026 index review, jadi sentimen yang amat berat bagi IHSG.

MSCI resmi mengumumkan penghapusan saham–saham berkapitalisasi besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT dari MSCI Global Standard Index, di tengah–tengah masih membekukan (interim freeze) penambahan konstituen dari pasar saham Indonesia.

Dari deretan saham tersebut, hanya AMRT yang bergeser ke kategori MSCI Small Cap Indexes. Sementara, sebanyak 13 saham keluar dari kategori ini.

Belasan saham tersebut adalah, ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG, turut melengkapi pelemahan IHSG pada hari ini.

Di sisi lain, berdasarkan laporan Phillip Sekuritas Indonesia, Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan antara AS dan Iran sangat rapuh dan dalam kondisi kritis setelah menolak usulan balasan yang tidak dapat diterima dari Iran.

Trump Sebut Proposal Damai Iran Sampah, Ketegangan di Timur Tengah Berlanjut. (Diolah dari Berbagai Sumber)

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Presiden Trump tidak memerlukan persetujuan Kongres (MPR) AS untuk memulai kembali serangan terhadap Iran. 

“Komentar ini muncul setelah Pemerintahan Presiden Trump melewati batas waktu 60 hari yang dipersyaratkan oleh Undang-Undang untuk menerima otorisasi penggunaan kekuatan militer,” terang Phillip dalam risetnya hari ini.

Diperberat lagi oleh data inflasi AS bulan April yang menimbulkan kecemasan tentang kenaikan harga di tengah perang Iran dan memperkuat pandangan Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan terus mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Pelemahan ini turut sejalan dengan penutupan Bursa AS semalam di tengah rilis data inflasi AS yang memburuk implikasi dari kenaikan harga energi global, yang berpotensi mendorong Bank Sentral untuk lebih hawkish kedepannya.

Selanjutnya investor bersikap wait and see terhadap pertemuan antara Presiden Trump dengan Presiden Xi Jinping pada 14-15 Mei, dengan pembicaraan yang akan mencakup berbagai isu sensitif.

Secara teknikal, menyitir Panin Sekuritas, IHSG bergerak di zona merah, menghadapi uji support 6.579–6.684. Jika level ini kembali ditembus, maka berkemungkinan melanjutkan pelemahan menuju support selanjutnya di range 6.254–6.388.

“Di sisi lain, resistance terdekat berada pada MA–5 di level 6.880,” analisis Panin, per Rabu (13/5/2026).

Senada dengan itu, BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya menyebut, IHSG tengah menguji support krusial di tengah rebalancing MSCI.

“Secara teknikal, IHSG saat ini sedang berada dalam tekanan besar setelah bergerak jauh di bawah garis Moving Average–20 (7.205) dan MA–60 (7.500). Indeks berpotensi breakdown area support penting dan tengah menguji level 6.787–6.722,” analisis BRI Danareksa, Rabu.

IHSG (Bloomberg)

Struktur indeks, lanjut riset yang sama, terus membentuk pola lower high dan lower low dengan indikator RSI yang mendekati area jenuh jual oversold, namun belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang kuat. 

“Jika IHSG gagal bertahan di atas area tersebut, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan.”

(fad)

No more pages