Setelah Gojek dan Tokopedia merger pada 2021, utang itu dikonversi menjadi saham.
Telkomsel dan PT AKAB selanjutnya sepakat untuk melakukan konversi 29.708 lembar saham Seri F+ sebesar US$300 juta atau sekitar Rp4,28 triliun.
Dengan total investasi sekitar Rp6,38 triliun, Telkomsel menghimpit 23,72 miliar saham GOTO atau setara dengan kepemilikan 1,97%.
Hanya saja keuangan GOTO masih merugi sepanjang 2021-2024. Pada periode 2022-2023, GOTO mencatat impairment goodwill masing-masing Rp11 triliun dan Rp78,76 triliun.
GOTO mencatat rugi komprehensif sebesar Rp22,53 triliun pada 2021, lalu lompat 78,71% menjadi rugi Rp40,26 triliun.
Adapun, posisi rugi itu makin lebar 124,53% menjadi Rp90,41 triliun. Belakangan, rugi komprehensif susut menjadi Rp5,53 triliun pada 2024.
“Hasil penelusuran terhadap utang dan ekuitas menunjukkan PT AKAB atau GOTO cenderung mengandalkan utang dalam menjalankan bisnis sehingga mengalami kerugian,” dikutip dari hasil pemeriksaan BPK, Rabu (13/5/2026).
Hasil pemeriksaan BPK itu menjadi bagian dari audit atas pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan tahun buku 2023 dan semester I-2024 pada induk Telkomsel, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Audit BPK itu memiliki nomor 64/T/LHP/DJPKN-VII/PBN.02/11/2025 bertarikh 21 November 2025.
Di sisi lain, BPK menemukan, realisasi EBITDA GOTO sejak 2019 sampai 2024 tidak sesuai dengan proyeksi manajemen, dengan deviasi lebar.
Kondisi rugi itu mengakibatkan earnings per share (EPS) saham GOTO bernilai negatif.
Pada 2021 dan 2022, GOTO mampu mengurangi rugi komprehensif, sehingga nilai losses per share mengecil.
Hanya saja, GOTO mencatat peningkatan rugi komprehensif menjadi Rp90,41 triliun yang mengakibatkan kondisi losses per share negatif Rp85 per saham.
“Kondisi di atas menunjukkan bagaimana transakasi investasi Telkomsel pada GOTO sampai tahun 2024 belum memberikan keuntungan bagi perusahaan,” dikutip dari hasil pemeriksaan BPK.
Unrealized Loss
Belakangan BPK mengidentifikasi jika Telkomsel mencatat unrealized loss mencapai Rp4,74 triliun sepanjang 2021-2024.
Selain itu, realisasi synergy value yang turut menjadi dasar pertimbangan akuisisi saham GOTO meleset dari perencanaan manajemen.
Menurut penelusuran BPK, realisasi synergy value baru mencapai Rp6,38 triliun atau 69,81% dari proyeksi awal per November 2024.
Dengan demikian, ekspektasi sinergi digital pada ekosistem Gojek dan Tokopedia yang jadi pertimbangan investasi Telkomsel meleset.
Telkomsel dibantu Citi, BNP Paribas dan Deliotte Indonesia untuk menyusun proyeksi synergy value tersebut.
“Sampai dengan 2024, PT Telkomsel telah membukukan kerugian sebesar Rp4,74 triliun atas investasi jangka panjang pada GOTO,” dikutip dari hasil pemeriksaaan BPK.
Adapun, PT Telkomsel mencatat kerugian investasi di GOTO sebagai bagian dari Biaya dan Beban pada Laporan Laba Rugi, dan tidak dicatat dari bagian Penghasilan Komprehensif Lain atau Other Comprehensive Income.
Posisi rugi yang lebar itu belakangan ditekan tren penurunan harga saham GOTO sejak IPO 2022 lalu. Tren koreksi saham GOTO itu memangkas saldo investasi jangka panjang Telkomsel yang belakangan ikut memengaruhi kinerja keuangan TLKM.
Telkomsel menerapkan Fair Value Through Profit or Loss (FVTPL) dalam mengakui dan mencatat investasi GOTO.
Setahun setelah GOTO melantai di bursa, investasi Telkomsel sempat meningkat 320,62% secara tahunan karena kenaikan harga saham operator ojek online tersebut.
Saat itu, keuntungan yang belum direalisasi sebesar Rp2,49 triliun yang mengerek akumulasi salso investasi Telkomsel menjadi Rp8,89 triliun.
Hanya saja, saldo investasi itu jatuh 75,74% menjadi Rp2,15 triliun pada 2022. Alasannya, saham GOTO balik arah ke level Rp91 per saham atau mengalami penurunan Rp284 per saham dari nilai wajar saham pada 31 Desember 2021.
Sampai dengan 2024, Telkomsel telah membukukan unrealized loss sebesar Rp4,74 triliun.
(naw)





























