Logo Bloomberg Technoz

Selain perkembangan awal yang belum maksimal, Irwandy menambahkan Indonesia belum memiliki teknologi LTJ yang masuk dalam sisi keekonomian. 

“Sampai dengan saat ini, Indonesia belum punya teknologi LTJ yang mencapai skala keekonomian. Mulai dari kita merintis melalui PT Timah dengan kerja sama melalui perusahaan-perusahaan di dunia sudah ada enam [kerja sama], tapi belum tercapai kesepakatan sampai sekarang,” jelasnya. 

Oleh karena itu, tahun ini Irwandy mendorong pengelolaan LTJ dapat dimaksimalkan karena sudah menjadi permintaan Presiden Prabowo melalui pembentukan Badan Industri Mineral (BIM) yang berada di bawah naungan Danantara. 

“Keterbatasan fasilitas pengolahan dan pemurnian di dalam negeri inilah yang menyebabkan kita sulit mendapatkan produksi hasil LTJ sendiri,” ungkapnya. 

Adapun, Irwandy menjelaskan data terkait sumber daya dan cadangan logam tanah jarang di Indonesia masih terbatas. Berdasarkan data pada tahun 2023, total sumber daya LTJ di dalam negeri diprediksi mencapai 136.206 ribu ton bijih dan 118.650 ton logam.

Dengan rincian sebagai berikut:
1. Tereka: 128.885 ribu ton bijih (114.236 ton logam)
2. Tertunjuk: 5.499 ribu ton bijih (3.317 ton logam)
3. Terukur: 1.822 ribu ton bijih (1.097 ton logam)

Sebagai catatan, usai BIM dibentuk, Indonesia tengah menggarap dua wilayah pilot plant LTJ, yakni di Tanjung Ular (Bangka Belitung) yang sudah mulai dibangun fasilitasnya, dan di Mamuju (Sulawesi Barat) yang masih dalam tahap penyiapan awal. 

Tanjung Ular merupakan fasilitas riset, pengolahan monasit, dan produksi mineral tanah jarang yang digarap PT Timah dan Perminas. Fasilitas ini diproyeksikan untuk memproses mineral ikutan timah, seperti Cerium, Lantanum, dan Neodymium.

Sementara untuk proyek Mamuju, pemerintah masih menyiapkan pembangunan tahap awal, mengingat daerah tersebut memiliki kandungan LTJ Primer pertama di Indonesia.

(smr/ros)

No more pages