Pada April, pembayaran dividen terbesar berasal dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp10,5 triliun. Disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp2,8 triliun dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) Rp1,3 triliun.
Sementara pada Mei, tekanan diperkirakan lebih besar dengan pembayaran dividen jumbo dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp10,1 triliun dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp8,7 triliun.
Selain itu, PT Astra International Tbk (ASII) juga membayar dividen Rp4 triliun, belum termasuk potensi repatriasi oleh Jardine sebesar Rp4 triliun.
Emiten lain seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) senilai Rp1,5 triliun, PT Bank Permata Tbk (BNLI) Rp1,3 triliun, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) senilai Rp1,1 triliun.
Selanjutnya, pada Juni, giliran PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membayar dividen senilai Rp9,2 triliun, disusul PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) Rp2,8 triliun dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) Rp1,1 triliun.
Sedangkan Juli akan diwarnai pembayaran dividen dari PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar Rp3,7 triliun dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) Rp1 triliun.
Mega Capital Sekuritas memproyeksikan, jika rupiah sore ini ditutup di level Rp17.500/US$, maka berisiko melanjutkan pelemahan ke arah Rp17.600/US$ hingga Rp17.800/US$ dalam jangka pendek.
Sore ini, rupiah ditutup pada level terendahnya sepanjang sejarah di posisi Rp17.500/US$. Sehingga, proyeksi tersebut berpotensi terjadi lebih dalam, dengan adanya musim tebar dividen ini.
Sebagai catatan, rupiah telah melemah 4,67% sepanjang tahun hingga hari ini. Dengan rincian, pada kuartal I-2026 rupiah melemah 1,79%.
Kemudian, sejak awal kuartal II (April), rupiah tergerus paling dalam 2,93% dan menjadi yang terlemah di kawasan pada periode ini.
(dsp/aji)



























