Logo Bloomberg Technoz

Negara-negara GCC kini sedang bertransformasi ke industrialisasi hijau dengan dukungan dana investasi besar dan beberapa proyek ambisius. Pada saat yang sama, Indonesia masih tertinggal dalam hal energi terbarukan, tetapi konsistensi UEA dapat membuka peluang percepatan transisi energi dan pengembangan kawasan industri hijau berbasis syariah.

Indonesia sendiri merupakan benchmark global green sukuk dengan pangsa 22% dan status top sovereign issuer. Posisi ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk menarik investasi hijau GCC melalui pembiayaan syariah terintegrasi seperti sukuk berbasis proyek, dana investasi bersama, dan wakaf produktif dengan pendekatan circular impact finance yang memperkuat dampak sosial dan keberlanjutan.

Ekspor RI Naik 17,4% jika I-GCC FTA Terealisasi

Perjanjian Indonesia-Gulf Countries Council Free Trade Area (I-GCC FTA) ditujukan untuk membangun kemitraan ekonomi antara Indonesia dengan negara-negara GCC (mencakup Arab Saudi, Bahrain, UEA, Qatar, Kuwait) guna menghilangkan hambatan perdagangan agar mampu meningkatkan arus ekspor-impor barang dan jasa, sekaligus memperkuat investasi dua arah antara Indonesia dan negara-negara Teluk.

Perjanjian ini secara strategis memposisikan Indonesia sebagai hub produk halal dan manufaktur di Asia Tenggara, sementara bagi GCC, kolaborasi ini menjamin ketahanan pangan serta akses investasi pada sektor energi terbarukan dan infrastruktur di tanah air.

Perundingan I-GCC FTA diketahui telah memasuki tahap akhir, setelah putaran keempat di Riyadh (Januari 2026) yang membahas hal-hal teknis dan memfinalisasi draf perjanjian.

"Jika terealisasi, kesepakatan ini diproyeksikan dapat meningkatkan ekspor Indonesia hingga 17,4% terutama pada sektor elektronik, manufaktur, logam, tekstil, dan produk kulit," tulis Prof. Nur Hidayah, Lintang Titian Purbasari, Rochmatulloh Alaika, dan M Syakhsan Haq.

"Membentuk poros ekonomi alternatif dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada dinamika
perdagangan Amerika Serikat dan China."

Dalam geo economics baru, Indonesia dinilai berpotensi menjadi green industry hub ASEAN dan mitra kerja sama strategis negara-negara GCC.

"Hal ini memerlukan reformasi investasi hijau yang bankable, diplomasi proaktif, fokus pada PLTS dan hidrogen, serta integrasi wakaf produktif sirkuler agar Indonesia menjadi poros ekonomi hijau yang kompetitif dan berkelanjutan," tukas analis.

(ros)

No more pages