Logo Bloomberg Technoz

Sentimen selanjutnya yang menjadi beban bagi IHSG datang dari isu MSCI. Pengumuman lanjutan menyoal rebalancing indeks MSCI turut jadi perhatian investor, di mana 12 Mei 2026 jadi tanggal penting, dengan tanggal efektifnya adalah 1 Juni 2026.

Penyebab IHSG Melemah

Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG sepanjang perdagangan hari ini, ditambah lagi pelemahan saham BMRI, saham DSSA, hingga saham BBCA yang amat dalam. Saham transportasi, saham energi, dan saham keuangan melemah masing–masing 2,88%, 2,01% dan juga 1,73%.

Tercatat sejumlah 442 saham melemah, dan hanya ada 251 saham yang berhasil menguat. Sisanya 125 saham stagnan.

Saham big caps yang jadi pemberat IHSG hingga menempati top laggard,

  1. Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 29,86 poin
  2. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 15,5 poin
  3. Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 11,48 poin
  4. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 9,45 poin
  5. Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 9,34 poin
  6. Barito Pacific (BRPT) mengurangi 3,67 poin
  7. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mengurangi 3,61 poin
  8. Impack Pratama Industri (IMPC) mengurangi 2,73 poin
  9. Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 2,44 poin
  10. Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 2,35 poin

Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat laju IHSG, saham PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) yang turun 3,59%, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) amblas 3,29%, dan juga saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) melemah 3,26%.

Senada, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) drop 2,92%, saham PT Indosat Tbk (ISAT) melemah 2,68%, dengan saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) terpeleset 2,51% hingga menjadi pemberat IHSG.

Kinerja Bursa Asia justru berhasil melenggang di zona hijau. Indeks KOSPI (Korea Selatan), CSI300 (China), Shenzhen Comp. (China), Shanghai Composite (China), Weighted Index (Taiwan), PSEi (Filipina), Straits Time (Singapura), TOPIX (Jepang), dan HANG SENG (Hong Kong), menguat masing–masing 4,32%, 1,64%, 1,62%, 1,08%, 0,45%, 0,43%, 0,42%, 0,3%, dan 0,05%.

Rupiah Melemah Menembus Rp17.400/US$

Depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang berat bagi IHSG. Menutup perdagangan hari ini, rupiah berada di posisi Rp17.412/US$. Mata uang Tanah Air melemah 0,22%.

Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp17.420/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday.

Mengulas kronologinya, pelemahan rupiah terjadi menyusul ketidakpastian geopolitik akibat tidaksepakatnya antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait penyelesaian konflik Timur Tengah.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu.

“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut sebagai ‘perwakilan’ Iran,” tulis Trump dalam unggahan media sosial pribadinya, sambil menyebut sebagai “SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA.”

Investor terfokus pada prospek perdamaian di Timur Tengah yang akan menurunkan harga komoditas energi dan meredam tekanan inflasi dalam perekonomian, mengutip riset Phillip Sekuritas Indonesia.

Kelanjutan Kenaikan Tarif Royalti

Terlebih lagi, ketidakpastian kebijakan terkait penarikan royalti hasil tambang juga ikut menambah beban bagi pergerakan rupiah.

Rencana pemberlakuan kenaikan tarif royalti sejumlah komoditas utama seperti tembaga, emas, dan timah sebagai upaya memanfaatkan lonjakan harga global sekaligus meningkatkan penerimaan negara, menjadi perhatian utama pasar.

Pasalnya pagi tadi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan aturan penyesuaian tarif royalti perusahaan tambang, seperti batu bara dan nikel, akan mulai berlaku pada Juni 2026.

Purbaya mengatakan, aturan ini sudah didiskusikan dengan Presiden Prabowo dan akan dirilis Peraturan Presiden (PP)–nya segera.

Kendati demikian, Purbaya menyebut, penyelesaian PP akan menjadi penentu pemberlakuan aturan tentang royalti dan bea keluar tersebut.

“Tergantung seberapa cepat PP–nya diproses,” jelas Purbaya, di Jakarta, Senin.

Namun, kabar terbaru per siang hari ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan menunda rencana merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025 yang mulanya dilakukan untuk menaikkan tarif royalti komoditas mineral.

Bahlil menyatakan keputusan menunda kenaikan royalti dilakukan usai mendengar tanggapan dari para pelaku usaha.

“Maka ini saya pikir saya akan pending untuk membangun formulasi yang baik yang saling menguntungkan. Negara untung, tetapi juga pengusaha harus untung,” terang Bahlil di Jakarta, Senin.

Isu MSCI: Pengumuman Terbaru 12 Mei

Di tengah kondisi penuh ketidakpastian ini, pergerakan IHSG semakin terjepit, yang turut tersengat sentimen penantian pengumuman MSCI, investor bersikap waspada terhadap volatilitas di tengah kekhawatiran terkait penyesuaian indeks MSCI, serta diskusi yang sedang berlangsung mengenai data free float (FF) April, yang menunjukkan penyesuaian pada sebagian besar konstituen Indonesia.

Total bobot Indonesia diprediksi juga akan turun hingga 16 bps, sehingga bobot Indonesia dalam MSCI EM menjadi 0,56% hingga 0,6%—yang mengimplikasikan estimasi potensi arus modal keluar (outflow) hingga US$1,7 miliar.

“Investor akan menantikan pengumuman review kuartalan MSCI pada 12 Mei 2026,” papar Phintraco Sekuritas dalam catatannya.

(fad)

No more pages